News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

PT. Metronas Kerjakan Proyek Jembatan Batang Namang Diduga Pakai BBM Bersubsidi.

PT. Metronas Kerjakan Proyek Jembatan Batang Namang Diduga Pakai BBM Bersubsidi.


Limapuluh Kota,merapinews.com –

Kalau menyebut jalan Provinsi terpajang di Sumatera Barat, mata boleh diarahkan ke jalan Tan Malaka dari Payakumbuh sampai ke Kecamatan Suliki, Kabupaten Limapuluh Kota. Di sepanjang ruas jalan terdapat beberapa unit jembatan. Satu di antaranya jembatan Batang Namang, Kecamatan Guguak, Kabupaten 

Limapuluh Kota.


Jembatan itu kini sedang diperbaiki dan diperlebar untuk lebih memberi kenyamanan pengguna jalan dan transportasi, dengan menempatkan rekanan kontraktor CV. Metronas sebagai penyedia jasa pembangunan.


Realiata di lokasi proyek. Pekerjaan renakanan yang seharus memperhatian peraturan dan perundang-undangan yang berlaku tidak ia indahkan. Setidaknya pemakaian Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk menggerakan  mesin alat berat Exavator. 



Seharusnya rekanan tersebut menggunakan BBM non Subsidi. Realita di lokasi proyek justru sebaliknya. Pembuktian itu dapat dilihat dari tumpukan derigen-derigen yang sarat bersisdikan BBM bersubsidi.

Estimasinya, kebutuhan BBM bila mesin itu bergerak 200 liter setiap hari, atau 29 jerigen isi 35 liter. Bila Kontrak kerja di tanda tangani 15 Juni 2022 lalu. “Artinya sudah terjadi kerugian negara”, ujar Ketua Ormas Pekat IB Suharyono.


Suharyono, menyatakan hal itu, menjawab pertanyaan terkait aktivitas CV. Metronas, mengerjakan pembangunan jembatan penganti jembatan Batang Namang. Selasa 20/9.


Menurut Ketua Organisasi Masyarakat (Ormas) Pekat BI itu. Tidak hanya dalam bentuk penyelewengan BBM yang menjurus pada perbuatan tindak pidana. Juga hak-hak karyawan dan pekerja itu juga dikebiri perusahaan pemilik kotrak nomor 630/84/KTR-BM/2022, tanggal 15 Juni 2022.


“Saya melihat pekerja jembatan itu bekerja tidak dilindungi undang-undang jasa kontruksi nomor 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja. Artinya pelindung diri para pekerja dari tingkat kecelakaan tidak diberikan. Pekerja menjalankan tugas mencari sesuap nasi dibiarkan dengan kaki dan tangan telanjang termasuk tanpa alat pelindung kepala”, ujar Suharsono.


Kelihatnya hal itu sepele, tapi itu menyangkut hak orang yang harus diberikan, termasuk hak negara untuk membiayai pembangunan. Dengan tindak kerjahatan pemakaian BBM ilegal. Saya melihat perusahaan itu sudah berada diranah hukum. Hamba hukum sudah seharusnya melakukan upaya hukum terhadap pemilik perusahaan itu”, ujar Suharyono.


Sejauh ini belum diperoleh Konfirmasi dari penyedia jasa senilai Rp. 3,7 miliar yang bersumber dari APBD Provinsi itu. Termasuk petugas lapangan PT. Metronas Sato, ketika dihubungi enggan menjawab komunikasi.(asroel bb/dendy).

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.