arrow_upward

Maut Mengintai di Sepanjang Aliran Batang Palangki Sijunjung

30 April 2026 : 30.4.26

Solok,merapinews.com — 

Ancaman bencana besar berupa galodo atau banjir bandang dahsyat disebut tinggal menunggu waktu menghantam kawasan sepanjang aliran Batang Palangki, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. 

Kerusakan hutan di kawasan hulu akibat aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang berlangsung masif dinilai telah berada pada titik membahayakan keselamatan manusia.

Peringatan keras itu disampaikan Ahli Geologi Sumatera Barat, Ade Edwar, Kamis (30/4/2026), menyusul munculnya satu unit alat berat jenis excavator yang diduga akan kembali memperkuat operasi PETI di kawasan hulu Batang Palangki.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, excavator tersebut turun dari kendaraan pengangkut alat berat (trado) di Kota Solok, Selasa malam (28/4/2026) sekitar pukul 21.00 WIB. 

Alat berat itu diduga akan dioperasikan oleh seorang oknum pemuda asal Nagari Batu Bajanjang, Kecamatan Tigo Lurah, yang akrab disapa Anto.

Menurut Ade Edwar, situasi di kawasan hulu Batang Palangki saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. Hutan yang sebelumnya menjadi daerah tangkapan dan resapan air disebut telah rusak parah akibat pembabatan menggunakan alat berat.

“Kalau negara terus membiarkan PETI beroperasi di sepanjang Batang Palangki, maka korban kemanusiaan hanya tinggal menunggu waktu,” tegas Ade Edwar.

Ia menilai kerusakan ekologis di kawasan itu tidak lagi bersifat sporadis, melainkan sudah berlangsung sistematis dan masif. 

Aktivitas alat berat yang bekerja siang dan malam disebut telah mengubah bentang alam serta merusak fungsi hutan sebagai penahan dan penyerap air.

“Ketika hujan ekstrem datang, air tidak lagi tertahan di kawasan hutan. Material lumpur, kayu dan batu dari hulu sangat berpotensi menghantam permukiman warga di hilir,” ujarnya.

Lebih jauh, Ade Edwar juga menyinggung adanya dugaan pembiaran terhadap aktivitas PETI yang terus berlangsung di kawasan tersebut. Bahkan, di tengah maraknya operasi alat berat, penindakan hukum dinilai nyaris tidak terlihat.

“Publik tentu bertanya, bagaimana mungkin ratusan alat berat bisa bebas keluar masuk kawasan tanpa ada yang mengetahui. Ini tidak mungkin aktivitas kecil,” katanya.

Informasi yang berkembang di lapangan menyebutkan, aktivitas PETI di kawasan hulu Batang Palangki diduga telah berlangsung cukup lama dengan melibatkan banyak alat berat.

Aktivitas itu disebut beroperasi tanpa hambatan, meski kerusakan lingkungan terus meluas.

Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh konfirmasi dari oknum pemuda asal Nagari Batu Bajanjang, Kecamatan Tigo Lurah, bernama Anto, yang disebut-sebut terkait dengan pengoperasian alat berat tersebut. 

Upaya konfirmasi telah dilakukan melalui pesan singkat maupun sambungan telepon, namun belum mendapat tanggapan.

Redaksi juga masih membuka ruang hak jawab kepada pihak-pihak terkait, termasuk aparat penegak hukum dan instansi pemerintah, guna memenuhi prinsip keberimbangan sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.(asroel bb)