Sawahlunto, merapinews.com —
Belum genap sebulan pasca penertiban besar-besaran oleh Polres Sawahlunto pada 11 Maret 2026, aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) kembali menggeliat.
Harapan petani pun runtuh, air yang sempat jernih kini berubah menjadi ancaman.
Dalam sepekan terakhir, Sungai Malakutan yang membelah Desa Kolok, Kecamatan Barangin, mendadak berubah wajah. Airnya tak lagi layak digunakan: keruh pekat, sarat lumpur, dan membawa sedimentasi dari hulu.
Sungai yang selama ini menjadi nadi kehidupan petani, kini justru menjelma menjadi “racun” bagi lahan pertanian.
Sumber pencemaran diduga kuat berasal dari aktivitas PETI di wilayah hulu. Sejumlah alat berat jenis excavator dilaporkan kembali beroperasi di Nagari Sibarambang, Kecamatan X Koto Diatas, Kabupaten Solok, serta di Nagari Pasanehan, Kecamatan Padang Ganting, Kabupaten Tanah Datar.
Deru mesin tambang di hulu, menjadi petaka di hilir. Petani di Desa Kolok yang selama ini menggantungkan hidup dari aliran Sungai Malakutan kini tercekik.
Lahan pertanian terancam gagal panen, sementara mereka tak punya pilihan selain menerima keadaan. Sebagai salah satu penyangga ketahanan pangan, kondisi ini menjadi ironi pahit yang tak bisa diabaikan.
Lebih memprihatinkan lagi, masyarakat memilih bungkam. Bukan tanpa alasan, ketakutan akan berhadapan dengan para pelaku PETI yang disebut-sebut memiliki “beking kuat” membuat warga tak berdaya.
Dugaan adanya aliran upeti dan koordinasi intens dengan oknum aparat penegak hukum (APH) pun mencuat, memperkuat rasa frustrasi di tengah masyarakat.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka bukan hanya sungai yang mati, harapan petani pun ikut terkubur. Kini publik menanti, apakah aparat benar-benar akan bertindak, atau kembali kalah oleh permainan kotor di balik tambang ilegal.(asroel bb).
