arrow_upward

Anggaran Terbatas Bukan Alasan. Ini Kata Bupati Safni Sikumbang

08 April 2026 : 8.4.26

 

Limapuluh Kota,merapinews.com. --

Pernyataan Bupati Safni itu menjadi nada pembuka sekaligus kritik halus terhadap kebijakan efisiensi anggaran yang kini dirasakan hingga ke daerah. 

Di tengah keterbatasan fiskal, pemerintah daerah dipaksa berpikir ulang. di Situjuh Gadang, jawabannya adalah gotong royong.

Senin (06/04/2026), di Jorong Tanjuang Bungo, Nagari Situjuah Gadang, jalan yang sempat terputus akibat longsor mulai kembali terbuka. Bukan melalui proyek besar bernilai fantastis, melainkan lewat gerakan kolektif masyarakat.

Wali Nagari Situjuah Gadang, Alfis Dt. Rajo Putiah, menggandeng Damkar dan BPBD Lima Puluh Kota, turun langsung bersama warga. Tanpa menunggu proyek turun, mereka bergerak lebih dulu membersihkan material longsor yang menutup akses vital masyarakat.

Di tengah aktivitas itu, Bupati Safni menegaskan bahwa kondisi keterbatasan anggaran tidak boleh dijadikan alasan untuk stagnasi pembangunan.

“Justru di sinilah jati diri kita diuji. Gotong royong adalah kekuatan yang tidak pernah habis, selama masyarakat masih peduli,” lanjutnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi refleksi situasi yang lebih luas. Efisiensi anggaran yang digulirkan pemerintah pusat membuat ruang gerak daerah semakin sempit. Namun di sisi lain, kondisi ini memaksa lahirnya kembali solidaritas sosial yang selama ini mulai memudar.

Safni menegaskan, pemerintah daerah tetap hadir, meski tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kekuatan anggaran.

Dukungan tetap diberikan mulai dari material dasar, pengerahan alat berat di titik prioritas, hingga koordinasi lintas OPD. 

Namun ia tidak menutup fakta bahwa percepatan pemulihan kini sangat bergantung pada partisipasi masyarakat.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Tapi ketika masyarakat bergerak, pekerjaan berat menjadi ringan. Inilah kekuatan yang tidak bisa dibeli dengan anggaran,” tegasnya lagi.

Di Situjuah Gadang, realitas itu terlihat jelas. Warga tidak menunggu bantuan datang, melainkan mengambil peran langsung dalam memperbaiki akses yang mereka gunakan setiap hari.

Bupati Safni pun memberikan apresiasi tinggi atas ketangguhan masyarakat.

“Ini bukan hal kecil. Ini bukti bahwa kita adalah daerah yang kuat—yang tidak bergantung, tapi mampu bangkit dengan kekuatan sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, warga merasakan langsung dampak dari gerakan gotong royong tersebut.

“Sebelumnya jalan ini sulit dilalui, apalagi kalau hujan. Sekarang kami perbaiki bersama, walaupun sederhana tapi sangat membantu,” kata Elda, salah seorang warga.

Warga lainnya menambahkan, keterlibatan langsung justru menumbuhkan rasa memiliki yang lebih kuat terhadap fasilitas umum.

“Kalau dikerjakan bersama, kami jadi lebih peduli. Jalan ini kami pakai setiap hari, jadi harus dijaga bersama,” ucapnya.

Di tengah tekanan kebijakan efisiensi yang membatasi ruang fiskal daerah, apa yang terjadi di Situjuah Gadang menjadi pesan tegas: ketika anggaran dipangkas, solidaritas lah yang mengambil alih.(asroel bb/msf).