arrow_upward

City Diplomacy, Bukittinggi Bidik Panggung Global Satu Abad Jam Gadang

03 April 2026 : 3.4.26

Bukittinggi,merapinews.com.  — 

Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menggelar pertemuan dengan perwakilan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Duta Besar Belanda, serta Wakil Duta Besar Jerman, Senin (31/3).

Pertemuan itu bukan sekadar agenda diplomasi. Di balik forum bertajuk city diplomacy itu, terselip ambisi besar untuk membawa Bukittinggi keluar dari bayang-bayang kota wisata regional menuju panggung internasional.

Didampingi Sekretaris Daerah, Ramlan tidak hanya berbicara soal kerja sama ke depan, tetapi juga memainkan narasi historis sebagai daya tawar. 

Pada kesempatan yang sama, Ia mengurai jejak panjang perjuangan kemerdekaan, termasuk posisi Bukittinggi dalam sejarah nasional.

“Hanya tiga kota di republik ini yang menyimpan bendera pusaka—Jakarta, Yogyakarta, dan Bukittinggi,” tegasnya, mengangkat legitimasi historis kota itu sebagai bagian dari identitas diplomasi.

Ramlan menegaskan, pertemuan tersebut menjadi pintu masuk menuju perhelatan akbar satu abad Jam Gadang pada Juni 2026. 

Pemerintah kota menyiapkan rangkaian kegiatan berskala internasional, termasuk International Minangkabau Literacy Festival ke-4 yang dijadwalkan berlangsung 3–7 Juni 2026.

“Delegasi dari 40 negara akan hadir. Kita siapkan seminar internasional, pertunjukan seni kolosal, hingga pameran 100 foto perjalanan sejarah Bukittinggi,” ungkapnya.

Ambisi itu jelas besar. Tapi tantangannya juga tak kecil. Di sisi lain, Ramlan mencoba menjaga keseimbangan antara internasionalisasi dan identitas lokal. Ia menegaskan, perayaan ini tidak boleh menggerus nilai nasionalisme.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah seminar nasional tentang peran strategis Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, yang pernah menjadikan Bukittinggi sebagai pusat pemerintahan dalam masa krisis.

“Kita ingin generasi muda tetap bangga pada jati dirinya. Modern, tapi tidak tercerabut dari akar budaya,” ujarnya.

Di titik itulah, peringatan 100 tahun Jam Gadang bukan sekadar nostalgia. Ia diposisikan sebagai “batu loncatan”—untuk mendorong transformasi kota

Namun publik tentu menunggu lebih dari sekadar wacana. Apakah diplomasi ini akan melahirkan investasi, jejaring global, dan peningkatan ekonomi lokal? Atau berhenti sebagai agenda simbolik yang meriah di permukaan?

Waktu akan menjawab. Yang jelas, Bukittinggi sedang mencoba mengetuk pintu dunia dan dunia akan menilai, apakah kota ini benar-benar siap. (asroel bb)