arrow_upward

PETI Sawahlunto Bangkit dari Mati, Siapa Pemain di Balik Tambang Ilegal Itu?

06 April 2026 : 6.4.26

 

Sawahlunto, merapinews.com —

Kembalinya aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kota Sawahlunto pasca operasi besar 11 Maret 2026 menjadi tamparan keras bagi aparat penegak hukum. Alih-alih hilang, praktik ilegal itu kini justru tampil semakin berani dan terbuka.

Situasi ini bukan sekadar pelanggaran hukum biasa, melainkan sinyal kuat bahwa ada kekuatan besar yang diduga masih bermain di balik aktivitas tambang ilegal tersebut.

Pantauan di lapangan, Minggu (5/4/2026), aktivitas PETI terlihat jelas di sepanjang aliran Talawi Mudiak hingga kawasan sungai di Desa Kolok Nan Tuo, Kecamatan Barangin. Sejumlah ponton lanting beroperasi tanpa rasa takut, mengeruk material sungai di siang hari,  lebih mencolok, sebuah kendaraan Suzuki Jimny warna hijau tanpa pelat nomor polisi tampak terparkir santai di ujung jembatan ampangan. Warga menyebut kendaraan itu milik seseorang berinisial “Wk”, yang diduga memiliki kaitan dengan aktivitas tersebut. Wk tidak sendirian, bersmanya ada Bw alias Sidi.

“Kalau tidak ada yang memback-up, tidak mungkin mereka berani seperti ini. Ini bukan lagi sembunyi-sembunyi, ini sudah terang-terangan,” ujar warga.

Pernyataan warga tersebut mempertegas satu hal: persoalan PETI di Sawahlunto bukan lagi soal penambang liar, tetapi soal siapa yang berada di belakang mereka.

Padahal sebelumnya, Polres Sawahlunto di bawah komando AKBP Simon Yana Putra, S.I.K., M.H., bersama Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sumbar yang dipimpin Kombes Pol Andri Kurniawan, S.I.K., telah melakukan operasi penertiban besar yang disebut sebagai bentuk kehadiran negara di tengah masyarakat.

Namun fakta terbaru justru menimbulkan pertanyaan serius. Apakah operasi tersebut benar-benar menyasar akar persoalan, atau hanya berhenti pada penindakan di permukaan?

Jika aktivitas PETI bisa kembali berjalan hanya dalam hitungan minggu, maka publik berhak mempertanyakan efektivitas penegakan hukum yang dilakukan.

Lebih jauh, kondisi ini juga menguji nyali aparat, apakah berani mengungkap aktor yang diduga berada di balik layar, atau hanya kembali menindak pelaku lapangan yang mudah digantikan?

Kerusakan lingkungan yang ditimbulkan pun tidak bisa dianggap sepele. Sungai-sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat terancam rusak, sementara negara berpotensi mengalami kerugian besar dari aktivitas ilegal ini.

Masyarakat kini menunggu langkah nyata, bukan sekadar operasi sesaat yang berakhir tanpa efek jera. Penegakan hukum yang tegas dan menyentuh aktor utama menjadi satu-satunya cara untuk menghentikan siklus berulang PETI di Sawahlunto.

Jika tidak, maka wibawa hukum akan terus dipertanyakan, dan praktik ilegal seperti ini akan selalu menemukan cara untuk hidup kembali.(asroel bb).