arrow_upward

Tiga Sumur Minyak Di Kolok Nan Tuo Sawahlunto Siap Diledakkan

07 April 2026 : 7.4.26

 

Sawahlunto, merapinews.com —

Lebih dari satu abad setelah dinyatakan “gagal” oleh kolonial Belanda, minyak bumi jenis minyak tanah di Desa Kolok Nan Tuo, Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, kini kembali ditantang untuk bangkit. Bukan oleh investor asing, tapi oleh masyarakat sendiri.

Melalui Koperasi Produsen Swarna Migas Mandiri, langkah berani itu kini sudah di depan mata. Legalitas koperasi sudah dikantongi dan terdaftar resmi di Kementerian Hukum dan HAM dengan Nomor AHU 00877118.29 Tahun 2025 dan NIK 1373030020027. Namun ironisnya, hingga kini langkah besar itu masih tertahan di meja birokrasi pusat.

Ketua koperasi, Erichan Dt. Malin Pangulu (Dt. Bai Kolok), tak lagi menutup-nutupi kesiapannya. Ia bahkan secara tegas mengungkapkan bahwa ada tiga titik sumur minyak yang siap dieksploitasi di kawasan Kolok.

“Tiga titik sumur sudah siap. Kami optimis bisa berproduksi maksimal,” tegasnya.

Tak hanya itu, langkah mereka juga bukan gerakan tanpa arah. Konsultasi sudah dilakukan langsung dengan Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, bahkan didampingi unsur teknis dari provinsi. Semua persyaratan, menurutnya, telah rampung.

“Kami sudah penuhi semua. Ahli penyulingan juga sudah kami datangkan. Sekarang tinggal menunggu izin dari Kementerian ESDM,” lanjutnya.

Di sinilah ironi itu semakin terasa.

Di saat masyarakat sudah siap bergerak, negara justru masih menahan langkah. Padahal, sejarah mencatat Kolok bukan lokasi sembarangan. Pada akhir abad ke-19, insinyur Belanda berhasil menemukan ribuan liter minyak dari pengeboran awal. Angkanya tak main-main hingga 9.000 liter dengan dominasi minyak ringan untuk penerangan.

Kala itu, investasi besar digelontorkan. Kilang dibangun. Mesin uap didatangkan. Bahkan dana setara puluhan miliar saat ini telah dikucurkan. Namun proyek itu dihentikan pada tahun 1902, bukan karena minyaknya tidak ada, melainkan karena keterbatasan teknologi dan tantangan geologi. Artinya minyak itu nyata, bukan mitos.

Kini, di tengah narasi lama bahwa Sumatera Barat miskin sumber daya alam, masyarakat Kolok justru membalik stigma tersebut. Mereka tidak lagi menunggu investor besar, tidak pula bergantung pada narasi pusat—mereka bergerak sendiri.

Tiga titik sumur yang akan dieksploitasi menjadi bukti keseriusan itu.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi “ada atau tidak ada minyak di Kolok”. Sejarah sudah menjawabnya.

Pertanyaan sesungguhnya, apakah negara siap membuka jalan, atau kembali membiarkan potensi ini terkubur?.

Jika izin tak kunjung terbit, maka yang tertahan bukan hanya ekonomi rakyat, tetapi juga peluang kebangkitan energi lokal yang sudah menunggu lebih dari 100 tahun.

Kolok kini tidak lagi diam. Tiga sumur sudah siap. Dan Sawahlunto sedang menunggu, apakah ini akan jadi kebangkitan, atau kegagalan yang diulang oleh birokrasi.(asroel bb).