arrow_upward

ISPU Bukittinggi Kategori Sedang, Warga Rentan Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan

04 September 2026 : 4.9.26

 

Bukittinggi,merapinews.com — 

Kualitas udara di Kota Bukittinggi mulai menunjukkan penurunan. Berdasarkan hasil pemantauan Stasiun Global Atmosphere Watch (GAW) Koto Tabang, konsentrasi PM2.5 di wilayah Kota Bukittinggi pada 3 September 2026 diprakirakan mencapai 20,5 mikrogram per meter kubik (µg/m³) atau masuk kategori kualitas udara “sedang”.

Konsentrasi maksimum tercatat mencapai 42 µg/m³ pada sekitar pukul 00.00 WIB.

Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias melalui Kepala Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi, Ramli Andrian, mengimbau masyarakat tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia dan masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.

Menurut Ramli, berdasarkan pemantauan arah angin dominan, sumber pencemar diduga dapat berasal dari wilayah bagian tenggara dan selatan Sumatera Barat, termasuk wilayah Sumatera Selatan dan Jambi.

“Melihat kondisi saat ini dan hasil pemantauan ISPU, kami mengimbau kepada seluruh masyarakat Kota Bukittinggi yang beraktivitas di luar ruangan masih dapat melaksanakan kegiatan dengan tetap menjaga kesehatan masing-masing,” kata Ramli.

Namun, lanjutnya, anak-anak, lansia dan masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika aktivitas di luar ruangan tidak dapat dihindari, masyarakat dianjurkan menggunakan masker.

Selain itu, potensi sumber pencemaran juga dapat berasal dari daerah yang berbatasan dengan wilayah Riau, seperti Kabupaten Limapuluh Kota, Sijunjung dan Dharmasraya.

Ramli menegaskan, kondisi kualitas udara tersebut masih bersifat sementara. Perubahan konsentrasi PM2.5 sangat bergantung pada dinamika pergerakan udara dan arah angin.

“Kualitas udara saat ini bersifat sementara. Ada kemungkinan membaik atau menurun tergantung pada pergerakan konsentrasi ISPU,” ujarnya.

Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi, katanya, akan terus memantau perkembangan kualitas udara dan berkoordinasi dengan Stasiun GAW Koto Tabang.

Pemko Bukittinggi juga meminta masyarakat tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi yang tidak bersumber dari kanal resmi pemerintah. Masyarakat diminta terus memantau perkembangan kualitas udara sembari menjaga kesehatan.

Kondisi ini sekaligus menjadi perhatian bagi masyarakat yang melakukan aktivitas luar ruangan di Kota Bukittinggi, terutama apabila konsentrasi PM2.5 kembali mengalami peningkatan.

Jika ingin dibuat lebih tajam dan investigatif, naskah ini bisa diarahkan pada pertanyaan dari mana sebenarnya asap/polusi tersebut berasal dan apakah ada kaitannya dengan karhutla di Sumatera Selatan, Jambi atau daerah perbatasan Sumbar.(asroel bb)