Bukittinggi, merapinews.com —
Keheningan dini hari itu pecah oleh kenyataan pahit. Saat kebanyakan warga masih terlelap dan sebagian lainnya bersiap menyambut sahur, rumah dinas seorang hakim di lingkungan Pengadilan Negeri Bukittinggi justru menjadi sasaran pencurian.
Korban kali ini adalah Rudy Cahyadi, hakim yang berdinas di Kota Bukittinggi. Aksi nekat itu terjadi sekitar pukul 02.00 WIB, Jumat (27/2), di Komplek Kehakiman Paninjauan, Campago Guguk Bulek, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan.
Rudy baru menyadari rumahnya telah disatroni maling saat terbangun untuk makan sahur. Di ruang tengah rumah tas yang sebelumnya ia letakkan rapi sudah tak lagi berada di tempat. Kecurigaan pun mengarah ke jendela ruang tengah yang terlihat terbuka.
Jendela itu memang dipasangi teralis. Namun anehnya, tidak ada bekas kerusakan. Seolah pelaku bekerja dengan tenang dan terukur, memanfaatkan celah kecil untuk meraih apa yang diincarnya tanpa perlu membobol paksa.
Rekaman CCTV milik rumah dinas tetangga kemudian membuka tabir. Dalam tayangan tersebut terlihat seorang pria mengenakan jaket bertudung hitam, celana jeans biru, masker, serta topi hitam. Ia membawa sebatang kayu panjang. Diduga, kayu itulah yang digunakan untuk mengais — atau dalam istilah Minang, “manjuluak” — tas korban dari balik teralis jendela.
Aksi itu berlangsung cepat di tengah gelapnya malam. Tanpa suara gaduh, tanpa jejak kerusakan mencolok.
Ketika fajar hampir menyingsing, pelaku sudah lebih dulu menghilang.
Akibat kejadian tersebut, uang tunai sebesar Rp. 5 juta yang tersimpan di dalam tas ikut raib. Kerugian materi mungkin bisa dihitung, namun rasa aman yang terusik di lingkungan rumah dinas hakim tentu menjadi persoalan.
“Kasus tindak pidana pencurian itu sudah dilaporkan ke pihak kepolisian,” terang tim humas PN Bukittinggi.
Ironisnya, ini bukan kali pertama. Menurut tim humas, pencurian ini merupakan yang keempat kalinya terjadi di komplek rumah dinas hakim PN Bukittinggi. Pada Agustus 2025, rumah hakim Rias dan hakim Sonya lebih dulu menjadi sasaran. Sebulan berselang, rumah dinas hakim Meriyenti juga mengalami nasib serupa.
Rentetan peristiwa ini menimbulkan tanda tanya besar: bagaimana mungkin kawasan rumah dinas aparat penegak hukum bisa berulang kali disusupi pelaku pencurian?
Kini, harapan tertuju pada aparat kepolisian untuk segera mengungkap pelaku dan memulihkan rasa aman di lingkungan kehakiman.
Sebab ketika rumah dinas hakim saja tak luput dari sasaran kejahatan. Kekhawatiran publik pun tak bisa lagi dianggap sepele. Namun sejauh ini belum diperoleh konfirmasi dari Aparat Penegakan Hukum (APH) di Polresta Bukittinggi. (**)
