arrow_upward

Di Lantai Dua Kantor Camat Itu, 36 Remaja Agam Sedang Bertaruh Masa Depan

27 Maret 2026 : 27.3.26

Agam,merapinews.com —

Pagi itu, lantai dua Kantor Camat IV Koto tidak biasanya seramai ini. Bukan rapat pejabat, bukan pula urusan administrasi. Yang datang justru anak-anak muda—36 orang, berpakaian rapi, wajah tegang, tapi menyimpan satu hal yang sama: harapan.

Mereka datang bukan sekadar ikut audisi. Mereka datang untuk diuji—seberapa siap mereka bicara tentang hal yang bahkan orang dewasa pun sering menghindar: tubuh, masa depan, dan risiko yang diam-diam mengintai generasi mereka sendiri.

Audisi Duta GenRe Kabupaten Agam 2026, Jumat (17/4/2026), mungkin terlihat seperti agenda rutin. Tapi kalau diperhatikan lebih dekat, ini bukan sekadar seleksi. Ini semacam “penyaringan mental”—siapa yang benar-benar paham, dan siapa yang hanya pintar tampil.

Di sudut ruangan, satu per satu peserta dipanggil. Wawancara berjalan. Tes tertulis menyusul. Pertanyaan tidak ringan—tentang gizi, stunting, hingga kesehatan reproduksi. Topik yang di luar sana masih sering dibungkam, dianggap tabu, bahkan disalahpahami.

Ketua Forum GenRe Kabupaten Agam, Jodi, bicara santai tapi pesannya tajam.

“Tidak semua akan bertahan. Dari 36 ini, pasti ada yang tereliminasi,” katanya.

Kalimat itu sederhana. Tapi di ruangan itu, maknanya terasa berat.

Karena yang gugur bukan sekadar angka. Ada rasa percaya diri yang runtuh, ada mimpi yang harus ditunda. Dan yang lolos? Mereka memikul tanggung jawab yang tidak kecil—menjadi wajah dari isu yang sering kali tidak nyaman dibicarakan.

Didampingi Susilawati dari Dinas Dalduk KB PP dan PA Kabupaten Agam, proses seleksi berjalan ketat. Tidak ada ruang untuk sekadar “ikut-ikutan”. Di sini, pengetahuan diuji, cara berpikir ditelanjangi.

Dan di titik itulah, satu hal terasa janggal sekaligus nyata:

mengapa remaja harus menunggu panggung audisi untuk benar-benar belajar tentang tubuh dan masa depannya sendiri?.

Di tengah proses itu, ada Tara Puti Chairani. Remaja Putri dari Nagari Salo, Kecamatan Baso. Wajahnya tenang, tapi matanya menyimpan keyakinan.

“Saya optimis bisa maju,” katanya singkat.

Optimisme yang terdengar sederhana, tapi di baliknya ada kesadaran. Ia tahu, ini bukan sekadar lomba. Ini tentang memahami sesuatu yang selama ini sering setengah dijelaskan—bahkan kadang disembunyikan.

Audisi terus berjalan. Dari 36, hanya 10 yang akan bertahan. Selebihnya akan pulang—mungkin dengan kecewa, mungkin juga dengan pemahaman baru.

Dan lantai dua kantor camat itu, untuk sesaat, berubah menjadi ruang kecil yang memotret kondisi besar:. generasi muda yang sebenarnya ingin tahu lebih banyak, tapi sering tidak diberi ruang yang cukup.

Di sana, masa depan tidak diumumkan dengan tepuk tangan. Ia disaring, pelan-pelan—melalui pertanyaan, keraguan, dan keberanian untuk menjawab hal-hal yang selama ini dianggap “tidak pantas dibicarakan.”

Dan mungkin, justru dari ruangan sederhana itu, perubahan diam-diam sedang dimulai.(asroel bb).