arrow_upward

Kecamatan IV Koto Menolak Lesu, Dari Tanah Ulayat ke Aroma Kopi, Dari Sampah ke Rupiah

27 Maret 2026 : 27.3.26

Agam, merapinews.com —

Di banyak tempat, keterbatasan anggaran sering jadi alasan paling aman untuk berhenti bergerak. 

Tapi di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, alasan itu justru ditolak mentah-mentah.

Camat IV Koto, Subchan, memilih jalur yang lebih berisiko dan tetap melaju, meski tanpa jaminan dana besar dari pusat.

“Kalau menunggu anggaran, kita tidak akan ke mana-mana,” kira-kira begitu semangat yang terbaca dari arah kebijakan yang kini sedang ia susun.

Di Nagari Koto Tuo, sebidang tanah ulayat seluas 10 hektare mulai dipandang dengan cara berbeda. Bukan lagi sekadar lahan tidur, tapi peluang yang terlalu sayang untuk dibiarkan menganggur.

Rencananya jelas ya.. kopi robusta. Komoditas yang tidak hanya tahan banting, tapi juga punya pasar yang terus hidup, bahkan di tengah ketidakpastian ekonomi.

Sosialisasi sudah berjalan. Pembersihan lahan tinggal menunggu waktu. Jika semua sesuai rencana, tanah ulayat itu tak lagi sunyi, ia akan dipenuhi aktivitas, dari cangkul yang menghantam tanah hingga harapan yang pelan-pelan tumbuh di antara batang kopi.

Namun IV Koto tampaknya sadar, membangun ekonomi hari ini tidak bisa hanya bertumpu pada satu sektor.

Di balik rencana kebun kopi, ada jaringan yang sedang dirajut. Nama-nama seperti Irman Gusman dan Guspardi Gaus disebut ikut dalam orbit kolaborasi. 

Mereka tidak sekadar hadir sebagai simbol, tapi diharapkan menjadi pintu masuk bagi keterlibatan perantau. Kekuatan lama yang sering terlupakan, tapi selalu relevan saat kampung butuh tenaga.

Di sisi lain, IV Koto juga bergulat dengan realitas yang lebih dekat ke tanah dan lebih kotor "sampah".

Sebagai jalur alternatif, kawasan ini menanggung beban lalu lintas sekaligus residunya. Plastik, sisa makanan, dan limbah rumah tangga berserakan di titik-titik yang sulit diawasi.

Masalah klasik. Tapi lagi-lagi, pendekatannya tidak klasik.

“Sampah tidak bisa dibiarkan. Itu bisa jadi sumber ekonomi,” kata Subchan.

Kalimat yang terdengar sederhana, tapi menyimpan ambisi besar mengubah sesuatu yang selama ini dianggap beban, menjadi sumber nilai.

Konsepnya masih dirancang. Tapi arahnya sudah terbaca pemilahan, pengolahan, hingga kemungkinan daur ulang bernilai jual.

Jika berhasil, IV Koto tidak hanya membersihkan lingkungannya, tapi juga membuka jalur ekonomi baru dari sesuatu yang selama ini dipandang tidak bernilai.

Di titik ini, IV Koto sedang memainkan dua pertaruhan sekaligus: menghidupkan lahan tidur dan menghidupkan kesadaran.

Sebab membangun ekonomi desa bukan sekadar soal program, tapi soal cara pandang.

Apakah lahan akan terus dibiarkan kosong?. Apakah sampah akan terus dianggap masalah?. Atau justru keduanya diubah menjadi sumber penghidupan?. IV Koto memilih jawaban terakhir.

Dan seperti banyak cerita pembangunan di daerah, keberhasilannya nanti tidak hanya ditentukan oleh rencana, tapi oleh konsistensi—sesuatu yang sering lebih mahal dari sekadar anggaran.(asroel bb).