Bukittinggi, merapinews.com —
“Kuncinya disiplin, jangan pelihara kebohongan. Mari bekerja dengan jujur.”
Pernyataan itu dilontarkan Walikota Bukittinggi Haji Ramlan Nurmatias SH, saat memimpin apel gabungan perdana pasca libur Idul Fitri 1447 H di halaman kantor Balaikota Bukittinggi, Rabu (25/3/2025).
Nada tinggi di hari pertama kerja itu bukan tanpa alasan. Pesan yang disampaikan Ramlan seolah menjadi cermin bahwa persoalan disiplin dan integritas aparatur sipil negara (ASN) belum sepenuhnya tuntas, bahkan setelah momentum Ramadan yang identik dengan pembenahan diri.
Di hadapan jajaran ASN, Ramlan menegaskan bahwa libur panjang tidak boleh meninggalkan“sisa mental santai" dalam birokrasi.
Ia mengingatkan, beban kerja yang menumpuk menuntut keseriusan, bukan sekadar kehadiran formal di kantor.
“Amanah harus dipikul dengan penuh tanggung jawab", katanya mengingatkan.
Sorotan terhadap disiplin ini kontras dengan tingginya dinamika kota selama libur Lebaran. Ia membeberkan, sekitar 70.000 kendaraan masuk ke Bukittinggi setiap hari, sementara 65.000 keluar.
“Artinya, 5.000 kendaraan diantaranya bermalam di Bukittinggi setiap hari,” ujarnya.
Lonjakan itu menandakan tingginya kepercayaan publik dan daya tarik kota, namun sekaligus menjadi ujian nyata bagi kinerja pelayanan pemerintah.
Dalam situasi seperti itu, kelengahan aparatur bisa berdampak langsung pada kualitas layanan masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, ia mengapresiasi kepada dinas terkait yang tetap bekerja selama Ramadan hingga Lebaran, termasuk melalui Tim Safari Ramadan yang menyerap berbagai aspirasi warga. Namun pesan utamanya tetap tajam
"Evaluasi tidak boleh berhenti pada laporan, tetapi harus berujung pada perubahan nyata", ujarnya menegaskan.
“Atas nama pemerintah dan pribadi, kami mengucapkan Selamat Idul Fitri 1447 H, mohon maaf lahir dan batin", ucapnya.
Di tengah suasana halal bi halal yang saling memaafkan, pernyataan soal “jangan pelihara kebohongan” justru menjadi garis tegas. Tradisi seremonial tidak boleh menutupi pekerjaan rumah birokrasi yang masih tersisa.
Apel gabungan pun ditutup dengan kegiatan halal bi halal sederhana. Namun pesan yang tertinggal jelas—usai Lebaran, yang diuji bukan lagi ucapan maaf, melainkan konsistensi kerja dan kejujuran aparatur di lapangan.(asroel bb)
