arrow_upward

Satu Abad Jam Gadang: Menara Penghitung Waktu, atau Menghitung Kelalaian Kita?

28 Maret 2026 : 28.3.26

Oleh: asroel bb

(Wartawan merapinews.com)

Di pusat kota Bukittinggi, Jam Gadang berdiri tanpa suara, tapi justru di situlah ia paling berisik. Setiap dentangnya bukan sekadar penanda waktu, melainkan seperti ketukan palu yang menagih ingatan.

Sudah sejauh apa kita berubah, atau jangan-jangan kita hanya berjalan di tempat?.

Ia lahir dari rahim kolonial, 1926. Hadiah manis dari Ratu Wilhelmina kepada pejabatnya, Hendrik Roelof Rookmaaker. 

Sebuah simbol kuasa yang kala itu berdiri untuk menunjukkan siapa yang mengatur waktu di tanah ini. Tapi sejarah punya cara sendiri untuk membalas. Menara itu justru dihidupkan oleh tangan pribumi, Yazid Rajo Mangkuto

Sebuah ironi yang akan kita rayakan, tanpa benar-benar merenungkannya.

Lebih ironis, Jam Gadang dibangun tanpa semen, tanpa besi. Hanya dengan adukan kapur, putih telur, dan pasir. 

Sederhana, nyaris rapuh. Tapi bertahan seratus tahun. Bandingkan dengan banyak bangunan yang kokoh di atas kertas, tapi cepat retak oleh kepentingan.

Jam Gadang sudah melihat semuanya.

Ia melihat Merah Putih pertama kali dikibarkan di puncaknya pada 1945, sebuah momen ketika bangsa ini berani merebut waktu dari tangan penjajah. Tapi setelah itu?. Ia juga menyaksikan bagaimana idealisme perlahan terkikis. 

Demonstrasi Nasi Bungkus, konflik bersenjata dalam pergolakan PRRI, semuanya lewat di hadapannya, tanpa pernah benar-benar selesai.

Menara ini tidak berpihak. Ia hanya merekam.

Perubahan atapnya seperti tamparan berlapis. Dari kubah patung ayam sebagai simbol kolonial yang merasa paling berkuasa, Berganti pagoda, tanda tunduk di bawah bayangan Gurka (Jepang),

Hingga gonjong Minangkabau diklaim identitas yang seolah final.

Tapi benarkah final?

Seratus tahun kemudian, Jam Gadang justru lebih sering diperlakukan sebagai latar foto daripada pengingat sejarah. 

Orang datang, tersenyum, mengabadikan diri lalu pergi tanpa benar-benar membaca apa yang sedang mereka hadapi.

Padahal menara itu seperti sedang menatap balik, dingin dan sabar. Seolah ingin bertanya, kalian datang untuk merayakan sejarah, atau sekadar menggunakannya?.

Jam Gadang tidak pernah lelah berdiri. Yang lelah justru kesadaran kita yang semakin pendek, bahkan lebih pendek dari jarum detiknya sendiri.(dari berbagai sumber).