Banda Aceh,merapinews.com. --
Di halaman Balee Meuseuraya Aceh yang luas dan sarat nuansa kebersamaan antar daerah, suasana Rapat Kerja Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia Komisariat Wilayah I, Minggu 12 April 2026 itu, tak sekadar menjadi forum formal. Ada satu cerita yang disisipkan dengan penuh keyakinan tentang sebuah penanda waktu yang telah melewati satu abad yaitu Jam Gadang.
Cerita itu disampaikan langsung oleh Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis. Dengan nada yang tenang namun tegas, ia tidak hanya berbicara soal agenda seremonial, tetapi tentang makna. Tentang bagaimana sebuah menara jam, yang berdiri kokoh di jantung kota, telah menjadi saksi perjalanan sejarah, denyut identitas, hingga kebanggaan kolektif masyarakatnya.
Didampingi Arif Malin Mudo, sosok yang merancang keseluruhan peringatan mengamini bahwa satu abad bukan sekadar hitungan waktu. Ia adalah ruang refleksi tentang apa yang sudah dijaga, dan apa yang harus diwariskan.
Bukittinggi, melalui momentum ini, seolah tidak ingin berjalan sendiri. Forum APEKSI dimanfaatkan sebagai panggung untuk mengajak kota-kota lain ikut menjadi bagian dari perayaan. Undangan itu bukan sekadar formalitas, tetapi ajakan untuk merawat ingatan bersama bahwa warisan budaya adalah milik bersama bangsa.
Rangkaian kegiatan yang disiapkan pun tidak main-main. Dari seminar internasional yang mempertemukan gagasan lintas negara, hingga lomba fotografi yang menangkap wajah Jam Gadang dari berbagai sudut pandang. Ada pula lomba puisi yang membentang dari Aceh hingga Papua, seolah merajut kata-kata dari seluruh penjuru negeri menjadi satu narasi besar.
Di ranah visual, Bukittinggi Film Festival akan menghadirkan karya sineas Asia Tenggara, membuka ruang dialog antar budaya melalui layar lebar.
Sementara itu, “Jam Gadang Cultural Night” disiapkan sebagai panggung ekspresi, tempat seni dan tradisi berbicara dalam bahasa yang paling jujur.
Dan ketika seluruh rangkaian itu mencapai ujungnya, Bukittinggi memilih menutupnya dengan sesuatu yang paling dekat dengan keseharian, kuliner.
Hidangan tradisional yang disajikan oleh Bundo Kanduang bukan sekadar makanan, tetapi representasi rasa, ingatan, dan nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun.
Pada akhirnya, peringatan 100 tahun ini bukan hanya tentang Jam Gadang yang tetap berdiri tegak. Lebih dari itu, ini adalah tentang bagaimana sebuah kota menjaga jiwanya—melalui waktu, melalui cerita, dan melalui kebersamaan.(rel/asroel bb)
