arrow_upward

100 Tahun Jam Gadang, Ramlan Nurmatias Tegaskan Bukittinggi Kota Perjuangan

25 Mei 2026 : 25.5.26

 

Bukittinggi,merapinews.com. --

Bukittinggi adalah Kota Perjuangan.” 

Pernyataan itu ditegaskan Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias saat menyambut momentum peringatan 100 tahun Jam Gadang yang akan berlangsung pada 3–21 Juni 2026. 

Bagi Ramlan, peringatan satu abad ikon kota itu bukan semata perayaan usia sebuah bangunan bersejarah, melainkan momentum untuk menghidupkan kembali ingatan masyarakat terhadap perjalanan panjang sejarah kota.

Menurutnya, Bukittinggi tidak dibangun hanya oleh deretan bangunan tua atau bentangan jalan-jalan yang kini ramai dipadati kendaraan. Kota ini tumbuh dari jejak perjuangan, dari kisah orang-orang yang pernah mempertaruhkan pikiran, tenaga, bahkan hidup mereka demi masa depan bangsa.

Di tengah hiruk pikuk kota yang terus bergerak, Jam Gadang tetap berdiri tenang di pusat Kota. Jarum-jarumnya terus berputar, menandai waktu tanpa henti. Namun bagi masyarakat Bukittinggi, menara jam itu lebih dari sekadar alat penunjuk waktu.

Selama hampir satu abad, Jam Gadang telah menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting. Ia berdiri sejak tahun 1926 dan melihat zaman terus berganti. Dari masa pemerintahan kolonial, pendudukan Jepang, masa perjuangan kemerdekaan, hingga Indonesia memasuki era modern.

"Bukittinggi memiliki tempat khusus dalam sejarah perjalanan bangsa" , kata Ramlan.

 Kota ini pernah menjadi pusat pergerakan, tempat lahirnya pemikir besar, hingga menjadi salah satu titik penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Karena itu, peringatan 100 tahun Jam Gadang harus dimaknai lebih dalam dari sekadar seremoni atau pesta rakyat.

Di bawah bayangan menara yang telah menjadi identitas kota. Pemerintah Kota Bukittinggi menyiapkan berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari festival budaya, pameran, seminar nasional dan internasional, malam budaya hingga festival kuliner tradisional.

Tetapi sesungguhnya yang sedang dirayakan bukan hanya perjalanan sebuah menara jam. Yang dirayakan adalah ingatan.

Ingatan tentang sebuah kota yang pernah berdiri pada titik penting sejarah bangsa. Tentang jalan-jalan yang pernah dilalui para pejuang. Tentang ruang-ruang yang pernah melahirkan gagasan besar bagi Indonesia.

Ketika malam, cahaya mulai menyelimuti kawasan Jam Gadang, orang-orang mungkin akan datang untuk mengabadikan gambar atau menikmati suasana. Anak-anak akan berlarian di pelatarannya, wisatawan mengambil foto, dan pedagang kembali menawarkan dagangan mereka.

Tetapi di balik keramaian itu, ada pesan yang ingin terus dijaga. "Bahwa Bukittinggi bukan hanya kota wisata".

Seperti yang ditegaskan Ramlan Nurmatias, Bukittinggi adalah Kota Perjuangan. Dan 100 tahun Jam Gadang menjadi pengingat bahwa waktu boleh terus berjalan, tetapi sejarah tidak boleh dilupakan.(as bb)