arrow_upward

Kisah Ghea Deasti Putri, Si Pejuang Mimpi di Usia 19

08 Mei 2026 : 8.5.26

 

Oleh: Asroel BB

Wartawan Bukittinggi

Di  19 tahun, sebagian besar remaja mungkin masih sibuk dengan urusan kuliah semester awal, mencari jati diri, atau sekadar menikmati masa muda tanpa beban yang terlalu berat. Namun, bagi Ghea Deasti Putri, anak se orang wartawan di Bukittinggi, usia 19 bukanlah waktu untuk bersantai. Ini adalah tahun di mana ia memutuskan untuk mengepakkan sayapnya, meninggalkan kenyamanan rumah, dan terbang seorang diri ke Kuala Lumpur, Malaysia.

Tujuannya jelas dan menantang: mengikuti training pramugari di AirAsia, salah satu maskapai penerbangan terbesar di Asia.

Langkah Ghea bukanlah keputusan impulsif. Di balik senyumnya yang tersirat dalam setiap unggahan media sosial, tersimpan tekad baja yang jarang dimiliki oleh mereka yang seusianya. 

Menjadi pramugari bukan sekadar tentang mengenakan seragam merah menyala yang ikonik, berjalan anggun di lorong pesawat, atau berkunjung ke berbagai negara. Lebih dari itu, profesi ini adalah tentang tanggung jawab keselamatan, kedisiplinan tingkat tinggi, kemampuan adaptasi budaya, dan ketahanan mental yang luar biasa.

Bayangkan tekanan yang harus dihadapi Ghea. Di negeri orang, dengan bahasa dan budaya yang sedikit berbeda, ia harus membuktikan diri di antara ratusan kandidat lain yang mungkin memiliki pengalaman lebih matang. Namun, Ghea memilih untuk tidak melihat usia sebagai kekurangan. 

Baginya, usia 19 adalah modal terbesar: energi yang melimpah, pikiran yang masih lentur untuk belajar hal baru, dan semangat yang belum padam oleh keraguan.

Kini, Ghea tengah menjalani masa training yang intensif. Hari-harinya diisi dengan simulasi keselamatan penerbangan, pelatihan pelayanan prima (service excellence), hingga latihan fisik untuk menghadapi situasi darurat. Ini bukan jalan yang mudah. Ada saat-saat di mana kelelahan menghampiri, ada momen di mana rindu pada keluarga di tanah air menusuk dada, dan ada kalanya rasa takut gagal muncul di tengah malam.

Namun, justru di sanalah karakter anak desa Kampuang Panjang nagari Salo Kab. Agam ditempa. Setiap tetes keringat di ruang pelatihan adalah investasi untuk masa depannya. Ghea memahami bahwa menjadi pramugari AirAsia berarti menjadi wajah ramah Indonesia di kancah internasional. Ia tidak hanya membawa nama dirinya sendiri, tetapi juga kebanggaan keluarga dan harapan generasi mudanya.

Di balik keberaniannya menembus langit Kuala Lumpur, ada kekuatan tak terlihat yang selalu menopangnya, doa restu orang tua. Dalam banyak kesempatan, Ghea kerap menyelipkan ungkapan terima kasih kepada keluarganya, terutama ibu dan ayahnya. Kalimat "Selamat berjuang nak, Doa sang ibu dan papa" bukan sekadar caption manis, melainkan pengingat bahwa setiap langkah kakinya di negeri orang dilindungi oleh doa tulus dari rumah.

Bagi Ghea, kesuksesan nanti bukan hanya miliknya sendiri. Itu adalah hadiah kecil untuk orang tua yang telah membesarkannya dengan penuh cinta dan kepercayaan. Motivasi inilah yang membuatnya tetap optimis meski tantangan training semakin hari semakin berat.

Kisah anak wartawan Ghea Deasti Putri seharusnya menjadi cermin bagi banyak anak muda di Indonesia. Ia membuktikan bahwa usia bukanlah batasan untuk bermimpi besar. Tidak perlu menunggu "siap" sepenuhnya, karena kesiapan justru diciptakan melalui proses berani memulai.

Banyak yang mungkin ragu: "Apakah cukup umur?", "Apakah mampu bersaing?", "Bagaimana jika gagal?". Ghea menjawab semua keraguan itu dengan tindakan nyata. Ia pergi, ia belajar, dan ia berjuang. Ia menunjukkan bahwa keterbatasan usia bisa ditutupi dengan kerja keras dan sikap positif.

Perjalanan Ghea masih panjang. Training di Kuala Lumpur hanyalah gerbang pertama. Masih banyak ujian yang menanti sebelum ia resmi menyandang gelar pramugari dan terbang melayani penumpang di ribuan kaki di atas awan. Namun, dengan bekal semangat muda, disiplin, dan doa yang mengalir tiada henti, optimisme itu terasa begitu kuat.

Suatu hari nanti, ketika Ghea berdiri tegak di pintu pesawat dengan seragam lengkapnya, tersenyum menyambut penumpang, dunia akan tahu bahwa di balik senyum itu terdapat kisah perjuangan seorang gadis desa berusia 19 tahun yang berani mengejar mimpinya sampai ke negeri orang.

Teruslah terbang tinggi, Ghea Deasti Putri. Langit Kuala Lumpur mungkin sedang mendung atau cerah silih berganti, tapi masa depanmu sudah menunggu untuk disinari oleh usahamu sendiri.

Selamat berjuang, Calon Pramugari! Indonesia bangga padamu. ✈️