Bukittinggi,merapinews com. --
“Permainan tradisional dan makanan khas Minangkabau harus tetap dikenalkan kepada generasi muda di tengah derasnya pengaruh gadget dan perkembangan teknologi. Budaya lokal tidak boleh hilang dari kehidupan anak-anak kita.”
Kalimat itu disampaikan Nurna Eva Karmila di tengah riuh tawa anak-anak yang berlarian di Lapangan Kantin, Kota Bukittinggi, Sabtu (16/5/2026).
Suara tangkelek yang beradu dengan tanah, sorak peserta lomba galah, hingga gelak penonton yang menyaksikan permainan congklak dan potok lele, menjadi penanda bahwa tradisi lama itu belum sepenuhnya hilang.
Di kota yang bersiap menyambut 100 tahun Jam Gadang, kata anggota DPRD Sumatera Barat, dari fraksi PKS Nurna Eva Karmila, alek anak Nagari hadir bukan sekadar hiburan. Ia menjadi ruang perjumpaan antara generasi muda dengan akar budaya Minangkabau yang mulai terdesak oleh dunia digital.
Kegiatan yang digelar Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatra Barat bersama Pemerintah Kota Bukittinggi itu berlangsung di Lapangan Kantin dan Aula Badan Keuangan pada 15 hingga 16 Mei 2026, selama dua hari, suasana kawasan itu berubah seperti halaman kampung tempo doeloe.
Anak-anak berjalan tertatih memakai tangkelek panjang. Beberapa peserta lain terlihat serius memainkan congklak sambil menghitung biji-biji kecil di lubang papan kayu. Di sudut lain, kaum ibu sibuk menyiapkan anyang dan godok inti khas Nagari Kurai dalam lomba memasak makanan tradisional.
Bagi sebagian orang tua yang hadir, permainan itu menghadirkan nostalgia masa kecil. Namun bagi anak-anak, banyak di antara permainan tersebut justru menjadi pengalaman pertama.
Ketua Kerapatan Adat Kurai, Inyiak DT. Sati, memandang kegiatan seperti ini penting untuk menjaga hubungan generasi muda dengan adat budaya Minangkabau. Menurutnya, permainan tradisional tidak hanya melatih ketangkasan, tetapi juga mengajarkan kebersamaan, kekompakan, dan nilai sosial yang mulai memudar di era internet.
Ia berharap Alek Anak Nagari tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan, tetapi bisa masuk hingga ke lingkungan sekolah agar anak-anak memiliki ruang lebih dekat dengan budaya sendiri.
Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, menyebut Alek Anak Nagari menjadi bagian penting dari rangkaian peringatan 100 tahun Jam Gadang yang akan dipusatkan pada Juni mendatang.
Menurutnya, perayaan satu abad ikon Kota Bukittinggi tidak cukup hanya dengan seremoni modern, tetapi juga harus menghadirkan identitas budaya masyarakatnya.
Menjelang sore, suara sorak peserta tangkelek (bakiak) kembali terdengar. Anak-anak yang semula canggung mulai kompak melangkah bersama. Di bawah bayang-bayang Jam Gadang yang telah menjadi saksi perjalanan Bukittinggi selama satu abad, permainan-permainan lama itu kembali hidup.
Sejenak, dunia digital seperti tersisih. Yang tersisa hanyalah tawa, kebersamaan, dan ingatan bahwa sebuah kebudayaan akan tetap bertahan selama masih dimainkan dan diwariskan.(asroel bb).

