Payakumbuh,merapinews.com. ---
Sampah kerap dipandang sebagai persoalan sepele yang identik dengan kebersihan semata. Namun, pandangan itu ditegaskan keliru oleh Kepala Dinas PUPR Kota Payakumbuh, Muslim. Ia menempatkan sampah sebagai ancaman nyata bagi infrastruktur kota, terutama sistem drainase dan jaringan perairan.
Dalam praktik di lapangan, tingginya volume sampah yang masuk ke saluran air menjadi kendala utama dalam menjaga fungsi drainase tetap optimal. Sampah, khususnya plastik yang sulit terurai, kerap menyumbat aliran air. Kondisi ini memicu tekanan hidrolis yang tidak hanya menghambat aliran, tetapi juga berpotensi merusak struktur beton saluran.
Dampaknya tidak berhenti pada genangan air. Penyumbatan drainase dapat berujung pada banjir lokal yang merendam permukiman warga. Di sisi lain, pencemaran sungai menjadi konsekuensi lanjutan yang mengancam keseimbangan ekosistem. Bahkan, aliran irigasi pertanian pun ikut terganggu, membuka potensi kerugian lebih luas hingga risiko gagal panen.
Muslim menegaskan, kerusakan infrastruktur akibat persoalan sampah justru menimbulkan beban anggaran yang jauh lebih besar. Biaya perbaikan drainase yang jebol atau rusak akibat tekanan air tidak sebanding dengan upaya pencegahan melalui pengelolaan sampah yang baik.
Dengan demikian, persoalan sampah bukan lagi sekadar isu kebersihan lingkungan, melainkan telah menjadi persoalan teknis infrastruktur dan ekonomi daerah. Kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah dinilai menjadi kunci untuk memutus rantai kerugian yang terus berulang.(asroel bb)
