Bukittinggi,merapinews.com. ---
Pagi hari masih diselimuti kabut, Jam Gadang tetap berdiri tegak seolah tak tergoyahkan oleh waktu.
Namun, di balik siluet ikonik itu, denyut nadi Kota Bukittinggi sedang berdetak dalam ritme baru. Bukan lagi sekadar detak langkah wisatawan yang memadati janjang 40 atau hiruk-pikuk Pasar Bawah, melainkan getaran dari perencanaan merajut ulang wajah kota agar lebih modern, lebih nyaman, dan tetap setia pada jiwanya.
Rapat Koordinasi Perencanaan Penataan Kota yang dipimpin Wali Kota Ramlan Nurmatias beberapa waktu lalu bukan sekadar agenda birokrasi biasa.
Di aula balai kota itu, berkumpul Forkopimda, instansi vertikal, BUMN, hingga BUMD dalam ruang. Mereka tidak sedang membahas proyek fisik, melainkan merancang ekosistem kehidupan.
Bukittinggi, terpilih sebagai salah satu dari 10 kota penerima pendampingan Integrated City Planning (ICP) dari Bappenas RI, kini memegang amanah besar membuktikan bahwa sebuah kota warisan bisa bertransformasi tanpa kehilangan identitas.
"Penataan kota harus menyeluruh," tegas Ramlan Nurmatias.
Baginya, keindahan fisik hanyalah kulit, sesungguhnya yang dibangun adalah rasa aman, nyaman, dan tertib yang mampu menggerakkan ekonomi pariwisata, perdagangan, dan kreativitas warga kota.
Maka, dimulailah sebuah revolusi. Kabel-kabel listrik, telekomunikasi, dan internet yang selama ini membelit langit Bukittinggi seperti benang kusut, kini akan "ditidurkan" ke dalam tanah.
Kolaborasi dengan PLN, Telkom, dan PDAM bukan cuma soal estetika visual, tapi tentang keselamatan dan keteraturan kabel di ruas-ruas jalan menuju Jam Gadang—Jalan Istana Bung Hatta, jalan Minangkabau, jalan Sudirman, jakan Perwira dan jalan Ombilin, akan berubah fungsi.
Jalan - jalan itu bukan lagi sekadar jalur kendaraan, melainkan ruang publik. Conblock yang rapi, pedestrian yang lebar, bangku taman yang mengundang istirahat, pohon peneduh yang memberi naungan, hingga fasilitas ramah disabilitas yang inklusif semua dirancang agar setiap langkah di Bukittinggi terasa manusiawi.
Prinsipnya sederhana, selesai per ruas, tuntas sebelum berpindah. Tidak ada lagi cerita proyek mangkrak yang memakan anggaran tanpa manfaat nyata.
Pasar Bawah, jantung ekonomi tradisional yang telah berdenyut sejak zaman kolonial, juga mendapat sentuhan revitalisasi.
Drainase baru akan mengakhiri genangan air yang kerap menjadi momok, lantai dan atap diperbaharui agar lebih sehat dan nyaman. Namun, karakter pasar sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli dalam suasana khas Minangkabau tetap dijaga suci. Ia akan bersih, tapi tidak steril modern dan tidak asing.
Sementara itu, Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) serta Janjang 40 bersiap menyala malam hari. Lampu dekoratif dan hias akan mengubah suasana menjadi hidup, menciptakan daya tarik baru bagi wisatawan yang mencari pengalaman berbeda setelah matahari terbenam.
Rekayasa lalu lintas yang disiapkan secara bertahap adalah janji kenyamanan guna mengurangi kemacetan demi memberikan ruang bagi pejalan kaki untuk menikmati kota tanpa terburu-buru.
Semua ini bukan mimpi disiang bolong, Ini adalah (blueprint) yang sedang diwujudkan dengan kolaborasi seluruh elemen pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan pemangku kepentingan.
Menurut Ramlan, Bukittinggi tidak memilih antara menjadi kota modern atau kota budaya; ia merajut keduanya dalam satu bingkai yang utuh.
Ketika nanti wisatawan datang, mereka tidak hanya akan melihat Jam Gadang yang megah, tapi merasakan kota yang ramah, teratur, dan berdenyut kehidupan.
Dan ketika warga lokal berjalan di pedestrian baru atau berbelanja di Pasar Bawah yang telah direvitalisasi, mereka akan tahu ini adalah kota mereka yang telah berbenah, bukan untuk meninggalkan masa lalu, tapi untuk menyambut masa depan dengan kepala tegak dan hati yang tetap hangat.
Bukittinggi sedang menenun ulang wajahnya. Dan dalam setiap helai benang yang dirajut, tersimpan janji bahwa kota ini akan tetap gemilang, baik di mata dunia, maupun di hati warganya sendiri.(asroel bb).



