Salo/Agam, merapinews.com --
Di Kampuang Panjang, Nagari Salo, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, kaum emak-emak tidak mau hanya dikenal sebagai pengurus rumah tangga.
Ketika urusan kampung membutuhkan tangan yang mau bekerja, mereka justru tampil di barisan terdepan.
Tidak banyak bicara. Tidak menunggu datangnya bantuan. Dengan peralatan seadanya, emak-emak Kampuang Panjang menyingsingkan lengan baju, turun langsung membersihkan lingkungan, menata pekarangan, hingga mempersiapkan lahan yang akan dimanfaatkan untuk tanaman obat-obatan.
Semangat itu terlihat semakin kuat menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 tahun 2026. Ketika sebagian masyarakat mungkin masih menunggu momentum perayaan, emak-emak Kampuang Panjang sudah lebih dahulu bergerak.
Mereka berbaur dengan kaum bapak, menghidupkan kembali semangat gotong royong yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat ba nagari.
Peran mereka pun tidak berhenti pada menyediakan makanan dan minuman bagi warga yang bergotong royong.
Mereka ikut memegang peralatan kerja, membersihkan lahan dan pekarangan, serta menata lingkungan agar kampung tempat mereka tinggal terlihat lebih bersih, rapi dan nyaman.
Di sinilah peran emak-emak Kampuang Panjang menemukan maknanya.
Mereka bukan sekadar pelengkap dalam kegiatan kemasyarakatan. Mereka adalah bagian dari kekuatan sosial yang ikut menentukan wajah kampung.
Melalui kelompok Dasawisma, kaum perempuan itu juga berupaya memanfaatkan lahan yang tersedia dengan mencadangkannya sebagai lokasi tanaman obat-obatan. Lahan yang sebelumnya mungkin hanya dipandang sebagai ruang kosong, kini mulai diarahkan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat.
Semangat itu kembali mereka tunjukkan pada Selasa (27/7/2026).
Dengan peralatan seadanya, emak-emak Kampuang Panjang turun membersihkan lahan dan pekarangan di sepanjang jalan kampung. Satu per satu rumput liar dan semak dibersihkan. Lingkungan yang sebelumnya terlihat kurang terawat, perlahan ditata kembali.
Bagi mereka, kegiatan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, dari pekerjaan sederhana itulah wajah sebuah kampung dibentuk.
Sebab membangun kampung tidak selalu harus menunggu anggaran besar, proyek pemerintah, atau program pembangunan yang datang dari luar. Ada pekerjaan yang bisa dimulai dari tangan sendiri, dari halaman rumah sendiri, bahkan dari sepetak lahan yang selama ini dibiarkan begitu saja.
Emak-emak Kampuang Panjang telah membuktikannya. Di tengah kesibukan mengurus rumah tangga dan keluarga, mereka memilih menyisihkan waktu untuk kampung.
Mereka membuktikan bahwa urusan kebersihan dan kemajuan lingkungan bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah atau kaum bapak.
Ketika emak-emak turun tangan, gotong royong tidak lagi sekadar kegiatan rutin.
Ia berubah menjadi gerakan bersama.
Dan dari Kampuang Panjang, Nagari Salo, pesan itu terasa jelas, sebuah kampung akan sulit menjadi indah jika warganya hanya pandai melihat. Tetapi kampung akan berubah ketika ada yang mau turun tangan dan mulai bekerja.(asroel bb)

