arrow_upward

Karupuak Kuah di Pedestrian Jam Gadang Masih Favorit Wisatawan

22 Agustus 2026 : 22.8.26

 

Bukittinggi, merapinews.com. — 

Kawasan pedestrian Jam Gadang, Kota Bukittinggi, tetap menjadi salah satu magnet kunjungan wisatawan. Di tengah keramaian pengunjung, aktivitas ekonomi masyarakat kecil juga masih terlihat. 

Sejumlah emak-emak bertahan menjajakan makanan tradisional, berharap rupiah dari wisatawan dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Salah satunya Reni (49), pedagang karupuak kuah yang setiap hari mengais rezeki di sekitar pedestrian Jam Gadang. Dari rumah, ia membawa sekitar 50 buah karupuak kuah yang telah diraciknya sendiri.

“Tidak berharap banyak, yang penting bisa membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, terutama biaya pendidikan anak-anak,”timpal Mai (46) warga Ngarai Sianok.

Dari 50 buah karupuak kuah yang dibawanya, Reni berharap dapat membawa pulang sekitar Rp100 ribu. Nilai yang bagi sebagian orang mungkin tidak seberapa, namun bagi Reni cukup berarti untuk menopang kebutuhan keluarganya.

Aktivitas berjualan di kawasan pedestrian Jam Gadang bukan tanpa tantangan. Para pedagang kecil terkadang harus berhadapan dengan petugas penegak Peraturan Daerah (Perda), karena keberadaan pedagang di kawasan tersebut tidak selalu sesuai dengan ketentuan penataan kawasan wisata.

Namun kondisi itu tidak serta-merta membuat 150 orang pedagang asongan meninggalkan lokasi. Reni dan sejumlah pedagang lainnya tetap berupaya mencari celah untuk mendapatkan penghasilan dari keramaian wisatawan.

Bagi mereka, pedestrian Jam Gadang bukan sekadar kawasan wisata, tetapi juga menjadi tempat menggantungkan harapan. Rupiah yang dibelanjakan wisatawan menjadi bagian penting dari perputaran ekonomi keluarga.

Karupuak kuah memang menjadi salah satu kuliner yang cukup diminati. Namun sejumlah pedagang lainnya juga menawarkan beragam makanan tradisional dan jajanan yang dapat dinikmati wisatawan sembari menikmati suasana Jam Gadang.

Suasana pedestrian semakin semarak ketika kesenian tradisional Minangkabau "Saluang"  hadir di tengah keramaian. Alunan saluang yang ditiup Makanjang, seniman dari Padang Panjang, sesekali mengiringi aktivitas wisatawan dan pedagang.

Di bawah kemegahan Jam Gadang, denyut pariwisata dan ekonomi rakyat kecil seakan berjalan beriringan. Wisatawan mendapatkan pengalaman menikmati kuliner dan kesenian tradisional, sementara para pedagang berharap setiap rupiah yang dibelanjakan pengunjung menjadi jalan untuk membawa pulang sedikit lebih banyak rezeki.(asroel bb).