arrow_upward

Dari Bukittinggi ke Flores, Rp. 70 Juta Bantuan Kemanusiaan Untuk NTT

16 September 2026 : 16.9.26

 

Bukittinggi,merapinews.com. --

Di ruang Bukittinggi Command Center (BCC), Rabu (16/9/2026), layar zoom meeting menjadi jembatan penghubung dua bumi yang terpisah ribuan kilometer. 

Di satu sisi, wajah-wajah ASN dan pejabat Bukittinggi yang serius namun penuh harap, di sisi lain, realitas pahit saudara-saudara di Nagekeo, NTT, yang masih bergelut dengan puing-puing gempa.

 Sekretaris Daerah Rismal Hadi menyerahkan donasi simbolis sebesar Rp70 juta, bukan sebagai transaksi administratif, melainkan sebagai representasi dari ribuan tangan kecil yang telah bersepakat: "Kami turut merasakan sakitmu."

Angka Rp70 juta mungkin terdengar sederhana bagi sebagian orang. Namun, ia adalah akumulasi dari potongan gaji ASN, sedekah warga melalui Baznas, hingga dukungan tulus dari BUMD seperti BPRS Jam Gadang, PDAM, dan Bank Nagari. 

Setiap rupiahnya menyimpan cerita dari ibu-ibu pasar yang menyisihkan uang dagangan, pegawai kantor yang rela menunda keinginan pribadi, dan perusahaan daerah yang mengalokasikan keuntungan untuk kemanusiaan. Ini bukan bantuan dari "pemerintah", tapi dari manusia Bukittinggi untuk manusia Nagekeo.

Rismal Hadi tidak berhenti di situ. Ia mengumumkan rencana Bantuan Keuangan Khusus (BKK) sebesar Rp500 juta yang sedang menunggu evaluasi gubernur, khusus dialokasikan untuk tiga kabupaten terparah: Manggarai, Manggarai Timur, dan Nagekeo. 

Pilihan ini bukan diskriminasi, tapi trase kemanusiaan yang mengutamakan mereka yang paling terluka saat sumber daya terbatas.

 "Mudah-mudahan ini bisa meringankan beban," ucapnya rendah hati. Kalimat sederhana yang mengandung doa sekaligus janji, bahwa Bukittinggi tidak akan membiarkan NTT berjuang sendirian.

Penyerahan donasi via zoom ini menangkap esensi solidaritas di era digital. Tidak ada jabat tangan fisik, tidak ada pelukan langsung. Tapi ada sesuatu yang lebih kuat yaitu kesadaran bahwa bencana di satu sudut Nusantara adalah luka bersama. Falsafah Minangkabau "Alam Takambang Jadi Guru" juga mengajarkan kita untuk peka terhadap penderitaan sesama anak bangsa, terlepas dari suku, agama, atau jarak.

Sambil menunggu DPA anggaran perubahan cair, Rp70 juta ini adalah napas pertama pertolongan. Ia mungkin belum mampu membangun kembali rumah-rumah yang roboh, tapi ia cukup untuk membeli beras, obat-obatan, atau selimut hangat bagi keluarga yang kehilangan segalanya. Dan yang terpenting, ia mengirimkan pesan jelas kepada korban gempa di Nagekeo. Kalian tidak dilupakan. Ada orang-orang di Bukittinggi yang terus berdoa dan bertindak untuk kalian."

Solidaritas sejati tidak diukur dari besarnya nominal, tapi dari ketulusan niat dan kecepatan respons. Dan hari ini, Bukittinggi membuktikan bahwa meski terpisah laut dan gunung, hati masyarakatnya tetap terhubung dalam satu denyut kemanusiaan.(asroel bb)