Bukittinggi, merapinews.com. --
Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis, meminta Pengurus Perkumpulan Pondok Wisata Bukittinggi (PPWB) periode 2026-2031 tidak menjadikan organisasi tersebut sekadar wadah administratif, tetapi mampu menjadi rumah bersama bagi seluruh pelaku pondok wisata.
Pesan itu disampaikan Ibnu, saat meresmikan Pengurus PPWB periode 2026-2031, di Balai Kota Bukittinggi, Selasa 22 September 2026.
Ia berharap kepengurusan baru membawa semangat dan gagasan baru serta memberikan kontribusi nyata terhadap perkembangan pariwisata Kota Bukittinggi.
"Jangan sampai PPWB hanya menjadi sebuah organisasi secara administratif. Jadikan PPWB sebagai rumah bersama bagi para pelaku pondok wisata di Kota Bukittinggi," tegas tegas Ibnu.
Menurutnya, pariwisata merupakan salah satu kekuatan penting bagi Bukittinggi. Wisatawan yang datang ke kota ini tidak semata-mata ingin melihat Jam Gadang, Ngarai Sianok, Lobang Jepang maupun menikmati kuliner, tetapi juga ingin merasakan suasana Bukittinggi, keramahan masyarakat, budaya Minangkabau serta pengalaman selama berada di kota wisata tersebut.
Dalam konteks itu, kata Ibnu, pondok wisata memiliki posisi strategis.
"Pondok wisata bukan sekadar tempat wisatawan untuk menginap. Di pondok wisata, wisatawan bisa merasakan bagaimana kehidupan masyarakat kita, bagaimana keramahan tuan rumah, bagaimana budaya kita diterima oleh tamu," ujarnya.
Karena itu, Ibnu menilai para pelaku pondok wisata pada hakikatnya merupakan bagian dari wajah pariwisata Kota Bukittinggi. Setiap pelayanan yang diberikan kepada wisatawan, menurutnya, ikut membentuk citra Bukittinggi secara keseluruhan.
Ketika wisatawan mendapatkan pelayanan yang baik di sebuah pondok wisata, kesan yang dibawa pulang bukan hanya mengenai tempat menginap tetapi juga mengenai Kota Bukittinggi.
"Begitu juga sebaliknya. Kualitas pelayanan dari masing-masing pelaku usaha akan ikut menentukan bagaimana orang memandang pariwisata Kota Bukittinggi secara keseluruhan," katanya.
Ibnu, juga mengingatkan pentingnya peningkatan kualitas pelayanan, kebersihan dan keramahan kepada wisatawan. Hal tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman wisata yang mendorong wisatawan untuk kembali berkunjung.
"Kita ingin mereka merasa nyaman, merasa diterima, mendapatkan pengalaman yang baik, kemudian datang kembali dan mengajak keluarga maupun orang lain untuk datang ke Bukittinggi," ujarnya.
Atas nama Pemerintah Kota Bukittinggi, Ibnu, menyampaikan selamat kepada seluruh pengurus PPWB periode 2026-2031 yang baru dikukuhkan.
Ia berharap PPWB dapat menjadi wadah untuk saling berbagi pengalaman, meningkatkan kualitas pelayanan, sekaligus memperkuat sinergi antara pelaku usaha pariwisata dengan pemerintah.
"Pemerintah akan terus berupaya menjalankan fungsi pembinaan dan pelayanan, tetapi kami juga mengharapkan dukungan dari seluruh pelaku usaha pariwisata," kata Ibnu.
Wawako Ibnu Asis, mengajak seluruh pihak membangun ekosistem pariwisata yang saling mendukung, sehingga perkembangan sektor pariwisata tidak hanya memberikan manfaat bagi pemerintah dan pelaku usaha, tetapi juga dirasakan masyarakat.
" Pemerintah maju, pelaku usaha maju, masyarakat mendapatkan manfaat, dan pariwisata Bukittinggi semakin berkembang," tutupnya.
Sementara, Ketua Umum PPWB Prof. Dr. Sukmareni, SH., MH. menekankan bahwa pengelolaan homestay di Bukittinggi ke depan tidak cukup hanya berorientasi pada penyediaan tempat menginap bagi wisatawan. Pengelolaan harus dilakukan secara profesional dengan memperhatikan kenyamanan, kebersihan, keamanan, keramahan serta kualitas pelayanan.
Menurutnya, homestay memiliki karakter berbeda dengan hotel karena menawarkan pengalaman tinggal lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, para pengelola homestay perlu mampu memberikan pelayanan yang tetap profesional tanpa menghilangkan suasana kekeluargaan dan nilai-nilai budaya lokal.
Ia juga mendorong para anggota PPWB untuk terus meningkatkan kapasitas pengelolaan, mulai dari manajemen usaha, pelayanan tamu, promosi, hingga pemanfaatan teknologi digital. Dengan pengelolaan yang semakin baik, keberadaan homestay diharapkan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi pemilik usaha, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat sekitar.
"Homestay harus mampu menjadi bagian dari pengalaman wisatawan ketika berada di Bukittinggi. Mereka tidak hanya datang untuk menginap, tetapi juga mendapatkan pengalaman tentang keramahan, budaya dan kehidupan masyarakat kita," ujarnya.
Sukmaremi, berharap PPWB dapat menjadi wadah untuk memperkuat kebersamaan antar-pengelola homestay, bertukar pengalaman dan mencari solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi pelaku usaha.
Ia juga menegaskan pentingnya menjaga kepercayaan wisatawan. Sebab, pelayanan yang baik akan melahirkan kepuasan dan mendorong wisatawan untuk kembali berkunjung sekaligus merekomendasikan Bukittinggi kepada keluarga maupun kerabatnya.
"Karena itu, kita harus menjaga kualitas dan nama baik homestay. Apa yang dirasakan wisatawan di satu homestay pada akhirnya akan ikut membentuk citra pariwisata Bukittinggi," katanya.(asroel bb)

