arrow_upward

Muslim ST: Membangun Jalan Tak Cukup dengan Aspal, Tapi Juga dengan Akhlak

11 September 2026 : 11.9.26

 

Payakumbuh, merapinews.com. — 

Jalan dibangun dengan aspal, jembatan ditegakkan dengan konstruksi, drainase dibenahi dengan perhitungan teknis. Namun bagi Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Payakumbuh, Muslim ST, ada satu hal yang tak kalah penting dalam setiap pekerjaan: akhlak orang-orang yang mengerjakannya.

Karena itu, Jumat, 11 September 2026, lingkungan Dinas PUPR Kota Payakumbuh kembali sejenak meninggalkan rutinitas pekerjaan teknis. Tidak ada pembahasan proyek, target fisik maupun persoalan infrastruktur.

Yang hadir justru suasana pengajian.

Agenda rutin mingguan itu diisi tausiyah Ustaz Yengki Oktrio dengan tema “Ciri-Ciri Orang yang Mencintai dan Mengenal Nabi Muhammad SAW.”

Bagi Muslim ST, pengajian tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial untuk mengisi Jumat pagi.

Lebih jauh, ia melihatnya sebagai ruang untuk mengingatkan kembali seluruh jajaran PUPR bahwa bekerja sebagai aparatur pemerintah bukan hanya soal menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga bagaimana amanah itu dijalankan dengan kejujuran, tanggung jawab dan akhlak.

“Pengajian ini menjadi momentum bagi kita untuk terus memperkuat iman, memperbaiki akhlak dan mempererat silaturahmi. Nilai-nilai yang kita dapatkan hendaknya dapat kita bawa dalam melaksanakan tugas sehari-hari,” ujar Muslim.

Pesan itu terasa sederhana. Namun di baliknya terdapat makna yang cukup dalam.

Sebab, pekerjaan PUPR bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat. Jalan yang dibangun digunakan masyarakat. Drainase yang dikerjakan diharapkan mengurangi persoalan genangan. Infrastruktur yang direncanakan dan dilaksanakan menggunakan sumber daya publik.

Di sanalah integritas menjadi penting.

Muslim menilai, kemampuan teknis harus berjalan seiring dengan kualitas moral. Aparatur yang profesional, menurutnya, bukan hanya mereka yang mampu menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga mampu menjaga amanah yang diberikan negara dan masyarakat.

Tema tentang kecintaan kepada Rasulullah SAW pun kemudian menjadi relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Mencintai Rasulullah, kata Muslim, tidak berhenti pada ucapan. Kecintaan itu harus terlihat melalui keteladanan terhadap akhlak Nabi Muhammad SAW, termasuk dalam menjalankan amanah dan berinteraksi dengan sesama.

“Kalau kita mengaku mencintai Rasulullah SAW, tentu ada keteladanan yang harus kita ikuti. Termasuk bagaimana kita menjaga amanah, bekerja dengan jujur dan memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat,” katanya.

Ustaz Yengki Oktrio dalam tausiyahnya mengingatkan, salah satu bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW adalah mengenal sosok beliau, meneladani akhlaknya, mengikuti sunnah serta menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan.

Pesan itu kemudian menjadi refleksi bagi keluarga besar PUPR Payakumbuh.

Di tengah tuntutan pekerjaan yang semakin kompleks, pembangunan fisik memang harus terus berjalan. Tetapi pembangunan tidak boleh kehilangan nilai-nilai kemanusiaan dan moral.

Sebab, infrastruktur yang kokoh membutuhkan perencanaan dan konstruksi yang benar. Sementara pelayanan publik yang dipercaya masyarakat membutuhkan sesuatu yang lebih dalam: integritas.

Muslim berharap pengajian rutin setiap Jumat tersebut tidak berhenti sebagai agenda mingguan. Ia ingin kegiatan itu menjadi bagian dari pembinaan mental dan spiritual seluruh keluarga besar Dinas PUPR Kota Payakumbuh.

“Semoga setiap ilmu yang kita pelajari menjadi amal, setiap langkah pengabdian menjadi ibadah, dan setiap Jumat membawa keberkahan bagi kita semua,” tuturnya.

Pada akhirnya, pembangunan memang tidak hanya tentang berapa kilometer jalan yang selesai dibangun atau berapa banyak infrastruktur yang berhasil diwujudkan.

Ada pembangunan lain yang tidak terlihat secara fisik.(asroel bb)

Yakni membangun manusia yang mengerjakannya.

Dan bagi Muslim ST, jalan yang baik bukan hanya jalan yang mulus dilalui kendaraan, tetapi juga jalan pengabdian yang dijalankan dengan amanah, kejujuran dan akhlak.