Bukittinggi,merapinews.com. ---
Bukittinggi, Sabtu 31 Oktober 2026** – Sore itu, Lantai IV Pasar Atas (Pasa Ateh) tidak hanya ramai oleh hiruk-pikuk transaksi jual beli khas pusat ekonomi kota dingin ini. Di sana, denyut nadi ekonomi berdetak selaras dengan antisipasi ribuan pelari yang akan menerjang aspal Bukittinggi esok hari.
Minang Geopark Run (MGR) 2026 yang akan digelar pada Minggu, 1 November 2026, bukan lagi sekadar agenda lari tahunan. Ia telah bertransformasi menjadi sebuah mesin penggerak ekonomi yang sengaja dihidupkan. Dengan suntikan dana bantuan Rp 352 juta dari Pemerintah Kota Bukittinggi, event yang kini menginjak tahun kesembilan ini membatasi pesertanya secara ketat: hanya 3.800 pelari.
"Kita memang membatasi peserta, mengingat daya tampung," ujar Walikota Bukittinggi, Ramlan Nurmarias, dengan nada tegas namun penuh perhitungan.
Pembatasan itu bukan untuk mengecewakan, melainkan untuk menjaga kualitas pengalaman dan memastikan dampak ekonomi yang terarah. Ramlan dengan sengaja memilih Pasa Ateh sebagai pusat pendaftaran. Langkah ini adalah strategi jitu: menarik ribuan mata dan kaki untuk singgah, berbelanja, dan memastikan geliat ekonomi para pedagang di pusat perbelanjaan bersejarah itu tetap bergairah.
Di balik pembatasan itu, antusiasme yang terbangun justru luar biasa. Perancang MGP, Ifti Saputra, merinci peta kekuatan para pelari esok hari: 1.950 orang akan menaklukkan kategori 5K, 1.050 di kategori 10K, dan 800 pelari tangguh siap menguji nyali di kategori 21K (*Half Marathon*).
Yang menarik, gelombang antusiasme ini tidak hanya datang dari tanah Minang. Data panitia menunjukkan dominasi peserta asal Pekanbaru yang mencapai 24 persen dari total keseluruhan. Kehadiran ribuan pelari beserta keluarga dan pendamping ini diperkirakan akan memicu efek domino: mendongkrak tingkat hunian hotel, meramaikan sektor kuliner, hingga menghidupkan lapak-lapak Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Bukittinggi dan sekitarnya.
"Dampak ekonomi dari kegiatan ini pasti akan berimbas hingga ke Kabupaten Agam," papar Lutfi AR, Sekretaris Daerah Kabupaten Agam. Ia menegaskan hal tersebut dalam sebuah perbincangan strategis bersama Sekda Bukittinggi Rismal Hadi, Ketua Pelaksana Ifti Saputra, dan perancang MGP Ichkar, di tengah kesibukan persiapan akhir pekan ini. Sebab, rute yang dilintasi para pelari esok hari akan menyentuh dan menyapa sejumlah kawasan di Kabupaten Agam.
Di balik keringat yang akan bercucuran esok hari, terselip misi yang jauh lebih besar daripada sekadar meraih medali. MGR 2026 adalah seri kedua dari *Geopark Run Series 2026-2027*, sebuah langkah strategis Sumatera Barat untuk mengukuhkan konsep *eco sport tourism*.
"Minang Geopark Run bukan sekadar perlombaan lari, melainkan ajang kolaboratif untuk mempromosikan pariwisata berbasis pelestarian dan edukasi geologi, serta mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal," ujar perwakilan panitia penyelenggara, menggarisbawahi esensi acara ini.
Ini adalah wujud dukungan nyata. Setiap langkah pelari esok hari adalah suara dukungan bagi upaya pengakuan Geopark Ngarai Sianok ke dalam jaringan prestisius UNESCO Global Geoparks (UGGp).
Sejak pertama kali digagas pada 2018 dengan hanya 1.000 peserta, MGR telah berevolusi pesat. Penyelenggaraannya konsisten melintasi berbagai situs geopark di Sumatera Barat, dari Sijunjung, Silokek, hingga Lembah Harau, bahkan pernah membawa semangat ini ke luar provinsi melalui *exhibition run* di Belitung, Ciletuh, dan Ijen.
Untuk memastikan perputaran uang tetap berpusat di masyarakat lokal, panitia dan pemerintah daerah telah mengunci komitmen: pelibatan penuh UMKM lokal sebagai penyokong utama kebutuhan acara. Tak hanya itu, sejumlah paket wisata khusus juga telah disiapkan untuk memperpanjang masa tinggal (*length of stay*) para peserta, mendorong mereka untuk terus mengeksplorasi geowisata Sumatera Barat bahkan setelah garis finish terlampaui.
Esok pagi, ketika 3.800 pasang kaki mulai melangkah di bawah langit Bukittinggi, mereka bukan hanya mengejar catatan waktu pribadi. Mereka adalah bagian dari sebuah pergerakan kolektif: menghidupkan ekonomi, melestarikan warisan geologi, dan menorehkan jejak sejarah geowisata Sumatera Barat di peta dunia.(asroel bb).

