Latihan Tambua, Talempong, Tari Piring, Silek hingga Randai Jadi Perekat Generasi Muda di Perantauan
Palembang,merapinews.com –
Jauh dari ranah Minangkabau, semangat menjaga warisan budaya leluhur ternyata tidak pernah padam. Di tengah kehidupan masyarakat perantauan di Palembang, Sumatera Selatan, Ikatan Keluarga Agam dan Bukittinggi (IKAB) terus merawat identitas urang awak melalui kegiatan seni budaya yang melibatkan lintas generasi.
Tidak sekadar berkumpul dan bernostalgia dengan kampung halaman, IKAB Palembang secara rutin menggelar latihan tambua (tambur), talempong, tari piring, silek tradisional hingga randai. Kegiatan ini menjadi ruang bagi anak-anak, remaja, pemuda, mahasiswa, hingga orang tua untuk mengenal, mempelajari sekaligus mewariskan kekayaan seni Minangkabau.
Kegiatan dipusatkan di halaman Masjid IKAB Daarul Mukhlishin, Tegal Binangun, Kelurahan Jakabaring Selatan, Kecamatan Rambutan. Latihan dijadwalkan setiap Rabu malam, dua kali dalam sebulan, dipimpin Ketua Departemen Seni Budaya IKAB, Hendra Saputra, di bawah arahan Ketua Umum IKAB Palembang, Ir. Reflin Arda, MAP, MSi, bersama jajaran pengurus.
Suasana latihan Rabu (4/11/2026) malam itu terlihat hidup. Puluhan peserta, laki-laki dan perempuan, dari berbagai kelompok usia tampak antusias mengikuti setiap gerakan dan irama yang diajarkan pelatih sesuai bidang masing-masing.
Namun, ada satu kebiasaan yang menjadi pembuka kegiatan. Sebelum suara tambua bertalu dan talempong mengalunkan irama khas Minang, seluruh peserta terlebih dahulu berkumpul di dalam masjid untuk berdoa bersama dan membaca ayat-ayat suci Al Quran, dipimpin Khairul Amri.
“Kita melaksanakan kegiatan ini dengan mengharap ridha Allah SWT. Diawali dengan pembacaan Kalam Ilahi dan ditutup dengan doa. Insya Allah warga IKAB Palembang tetap bersatu dan bisa melaksanakan kegiatan bermanfaat bagi para pengurus, anggota dan warga,” ujar Reflin Arda.
Mantan pegawai Badan Pusat Statistik (BPS) itu menegaskan, kepengurusan IKAB saat ini berupaya memperkuat kebersamaan dan membesarkan organisasi yang telah memiliki perjalanan panjang.
Reflin yang kembali dipercaya memimpin IKAB Palembang untuk periode kedua melalui Musyawarah Tinggi (Muti) tahun 2024, setelah unggul dalam pemilihan ketua umum atas Ifrajoni, SE, mengatakan, berbagai kegiatan positif akan terus dikembangkan dengan tetap memusatkan perhatian pada aktivitas warga IKAB di Palembang dan Sumatera Selatan.
IKAB sendiri memiliki sejarah panjang. Organisasi ini berdiri pada 2002, sementara cikal bakalnya, Ikatan Keluarga Agam (IKA), telah terbentuk sejak 1964.
“Kita usahakan melaksanakan kegiatan positif yang bermanfaat bagi para anggota dan kita mohon mendapat berkah dari Allah SWT,” katanya.
Di bidang seni budaya, latihan tambua dan tansa dikomandoi Febri Musriandi bersama ketua-ketua grup tambua Nagari Koto Malintang (IKKM), Koto Kaciak (IKKEKS), serta Riak Danau. Puluhan peserta dari kalangan anak-anak hingga orang dewasa ikut ambil bagian.
Ke depan, kegiatan ini direncanakan melibatkan kelompok tambua dari Sungai Batang, Tanjung Sani, Lubuk Basung dan nagari lainnya.
Sementara latihan talempong dikoordinasikan Elli Piliang bersama Desmawati, Yusmawati, Emizul, Yem Zainal, Asmara Fitri serta para bundo-bundo IKAB Palembang.
Untuk tari piring, tarian khas Minangkabau yang membutuhkan kelincahan gerak dan keseimbangan, pembinaan dilakukan Devi Plaju dan Hendra Syaputra. Pesertanya terdiri dari anak-anak dan remaja IKKEK, Riak Danau serta kelompok lainnya.
Silek tradisional dilatih Indra Saren, Rio dan Meliyadi. Adapun randai dikomandoi Buther Rohit bersama Indra Saren, Endah dan Andesman. Selain itu, latihan pasambahan juga dilaksanakan dengan koordinasi Rizal Chaniago dan Indra Saren.
Seluruh kegiatan tersebut diarahkan untuk membangun satu kekuatan seni budaya Minangkabau di perantauan. Bukan hanya mempertahankan kelompok kesenian berdasarkan nagari, tetapi juga mempertemukan berbagai potensi dalam satu wadah yang lebih besar.
Sekretaris Umum IKAB Palembang, Afdhal Azmi Jambak, SH, mengatakan, dalam rapat khusus pengurus telah disepakati pembentukan satu tim kesenian IKAB Palembang dengan menghimpun seluruh kekuatan kelompok yang sudah ada.
“Grup atau tim kesenian yang ada per nagari tetap hidup (eksis) dengan baik. Namun, kita bangun satu kekuatan besar, dengan membuat satu tim bersama tingkat Kabupaten Agam dan Kota Bukittinggi. Semua berhimpun, saling isi, saling support dalam satu ikatan persaudaraan yang baik dan mulia,” ungkap Afdhal.
Menurut advokat sekaligus wartawan senior itu, keberadaan tim kesenian nantinya akan disampaikan kepada tokoh-tokoh urang awak. Dukungan moral maupun material diharapkan mengalir dari keluarga besar Agam dan Bukittinggi.
Tidak berhenti di lingkungan internal, Departemen Seni Budaya IKAB Palembang juga akan menjalin koordinasi dengan Dewan Kesenian Palembang (DKP) untuk ikut berkontribusi dalam pengembangan seni budaya di ibu kota Sumatera Selatan.
Ketua Dewan Kesenian Palembang, M. Nasir, disebut sebagai salah seorang tokoh kreatif sekaligus jurnalis senior yang bersama para seniman dan seniwati terus menjaga serta mengembangkan kehidupan kesenian di Bumi Sriwijaya.
“Kita rencanakan peresmian Departemen Seni Budaya IKAB Palembang ini pada Januari 2027. Kita komunikasikan dengan DKP,” tambah Afdhal.
Menariknya, gerakan IKAB Palembang tidak hanya berhenti pada pelestarian seni dan budaya. Organisasi masyarakat perantauan ini juga membangun kegiatan sosial keagamaan dengan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan kehidupan berorganisasi.
Semangat tersebut diwujudkan melalui pembentukan Baitul Maal, Majelis Taklim dan penguatan kepengurusan masjid.
Langkah itu berangkat dari filosofi kehidupan masyarakat Minangkabau, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Ketua Pengarah Baitul Maal IKAB Palembang, Drs. H. Nofri Dalimunthe, menjelaskan, Baitul Maal telah mulai berjalan dengan tujuan membantu warga yang membutuhkan pembiayaan tanpa harus terjerat praktik pinjaman berbunga tinggi.
“Baitul Maal kita dirikan dan sudah mulai berjalan dengan tujuan memberantas praktik riba terhadap warga IKAB. Kita usahakan menghimpun dana tanpa bunga dan menyalurkannya berupa pinjaman kepada warga yang membutuhkan tanpa bunga, tanpa riba,” katanya.
Nofri menilai, persoalan pinjaman berbunga tinggi telah menjadi beban bagi sebagian masyarakat. Tidak sedikit warga yang terjerat pinjaman kepada rentenir dengan bunga yang memberatkan.
Karena itu, Baitul Maal diharapkan menjadi salah satu jalan keluar melalui penghimpunan dana dan penyaluran pinjaman tanpa bunga.
“Kita ingin memberantas praktik riba. Sebab riba dilarang Allah SWT di dalam Al Quran dan Hadist Nabi Muhammad,” tegasnya.
Gerakan ini sekaligus memperlihatkan bahwa IKAB berupaya membangun organisasi yang tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya masyarakat perantauan, tetapi juga hadir memberikan manfaat nyata bagi kehidupan sosial dan ekonomi anggotanya.
Di sisi lain, pembangunan Masjid IKAB Daarul Mukhlishin juga menjadi perhatian utama pengurus. Masjid tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi tempat ibadah, melainkan pusat kegiatan sosial, pendidikan keagamaan dan penguatan persaudaraan warga IKAB.
Ketua Dewan Pembina IKAB Palembang, Prof. Dr. Chairil Anwar, Ph.D., mengatakan, pengurus terus berupaya meningkatkan ikatan kekeluargaan warga IKAB di Palembang.
“Kita fokus untuk peningkatan ikatan kekeluargaan warga IKAB di Palembang ini. Kita selesaikan pembangunan Masjid IKAB Daarul Mukhlishin. Kita jadikan masjid ini pusat kegiatan amal makruf nahi munkar dan amar makruf nahi munkar. Kita tingkatkan kepedulian kepada warga IKAB di Palembang dengan tetap peduli terhadap kampung halaman,” ungkapnya.
Sejumlah tokoh turut memberikan perhatian terhadap perkembangan IKAB Palembang. Di antaranya para pembina, penasihat, ninik mamak, ulama dan bundo kanduang yang selama ini ikut menjaga kekompakan organisasi.
Salah seorang yang merasakan kuatnya semangat persaudaraan tersebut adalah Andi, Ketua IKKEKS Palembang.
Ia mengaku bersyukur karena kebersamaan warga IKAB masih terpelihara dengan baik. Perhatian para pembina, penasihat, ninik mamak, ulama dan bundo kanduang menjadi kekuatan tersendiri bagi organisasi.
“Kita besarkan IKAB Palembang untuk kebahagiaan dan kesejahteraan anggota dan warga semua dengan prinsip duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang,” katanya.
Ungkapan adat Minangkabau itu mengandung makna bahwa ketika duduk sendiri terasa sempit, tetapi ketika duduk bersama akan terasa lapang. Sebuah filosofi yang menggambarkan pentingnya kebersamaan dan persatuan.
Dengan berbagai kegiatan tersebut, IKAB Palembang sedang berupaya merawat dua warisan sekaligus: kebudayaan leluhur dan nilai-nilai keagamaan.
Di tanah rantau, tambua tetap ditabuh, talempong tetap berdenting, tari piring terus bergerak, silek dan randai tetap diajarkan. Sementara masjid, Majelis Taklim dan Baitul Maal menjadi ruang untuk memperkuat kehidupan sosial dan spiritual.
Sebuah ikhtiar agar generasi muda Minangkabau di Palembang tidak kehilangan akar budayanya, sekaligus tetap memegang teguh nilai-nilai adat dan agama.(asroel bb).
