arrow_upward

Ketika Negara Datang Sebagai Penyangga Gambir Limapuluh Kota

10 Februari 2026 : 10.2.26

Limapuluh Kota,merapinews.com. ---

Di perbukitan hijau Kabupaten Limapuluh Kota, Gambir telah menjadi denyut ekonomi rakyat. Daun-daun kecil yang dipanen dari ladang selama puluhan tahun, menjadi sandaran hidup ribuan para petani. 

Namun, di balik perannya sebagai komoditas unggulan dunia, Gambir kerap menghadapi persoalan klasik, pasar yang jenuh dan harga yang tak selalu berpihak pada petani.

Harapan baru:

PT Perusahaan Nusantara IV (PT PN IV), Badan Usaha Milik Negara (BUMN), masuk ke sektor perkebunan Gambir Limapuluh Kota, ini tentu menjadi sinyal kuat bahwa negara mulai hadir sebagai penyangga. 

Kehadiran BUMN itu tidak tiba-tiba (instan), melainkan ditopang oleh pengakuan resmi negara atas mutu dan kekhasan Gambir Limapuluh Kota melalui Sertifikat Indikasi Geografis (IG).

Pengakuan ini bukan sekadar dokumen hukum. Ia adalah penegasan bahwa Gambir Limapuluh Kota memiliki identitas, kualitas, dan nilai yang diakui dunia.

Bupati Safni Sikumbang, melalui Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Limapuluh Kota, Witra Posepwandi, S.Pi, menyebut pengakuan IG sebagai titik balik penting bagi masa depan Gambir.

“Dengan adanya perlindungan hukum mutu Gambir, investor punya kepastian. Negara menjamin kualitasnya, dan itu yang membuat PT PN IV berani masuk,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (6/2/2026).

Lebih dari sekadar investor, PT PN IV diproyeksikan menjadi bapak angkat bagi petani Gambir. Perusahaan negara ini akan menampung produksi petani yang tersebar di lahan seluas 15.000 hektare, sebuah langkah strategis untuk mengatasi kejenuhan pasar sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat petani.

Namun, harapan itu datang tentu saja bersamaan tanggung jawab.

Witra, mengingatkan bahwa keberhasilan investasi ini sangat bergantung pada konsistensi mutu. Standarisasi dan keseragaman kualitas, terutama untuk Gambir kelas premium, menjadi kunci agar kepercayaan pasar tetap terjaga.

“Investor mau membangun pabrik di daerah jika ada jaminan bahan baku dan kualitas. Ini yang harus dijaga bersama oleh petani,” katanya mengingatkan.

Jika pabrik pengolahan berdiri di Limapuluh Kota, dampaknya diyakini akan meluas. Gambir tidak lagi sekadar dijual dalam bentuk mentah, tetapi diolah menjadi produk turunan bernilai tinggi. 

Proses hilirisasi inilah yang diharapkan mampu menggerakkan ekonomi rakyat—membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, dan memperkuat posisi tawar petani.

Dalam skema besar itu, PT PN IV juga akan berperan sebagai pembina Masyarakat Peduli Industri Gambir (MPIG). Pembinaan kelembagaan, peningkatan kapasitas petani, hingga penguatan rantai industri menjadi bagian dari upaya menjadikan Gambir Limapuluh Kota sebagai komoditas unggulan yang berdaulat di negeri sendiri dan berdaya saing di pasar dunia.

Di ladang-ladang Gambir, daun-daun itu tetap dipetik seperti biasa. Namun kini, ada keyakinan baru yang menyertai setiap panen, bahwa negara tidak lagi sekadar melihat dari jauh, melainkan hadir untuk menopang, menjaga, dan memberi nilai lebih pada jerih payah petani.(asroel bb).