Soko, perawat asal Gambia yang menjadi peserta MasterChef Spanyol, membuat seluruh dapur hening ketika ia dengan tegas menolak memasak daging babi.
"Bagi saya, agama saya lebih penting dari segalanya," ucapnya di hadapan para juri - tanpa ragu, tanpa takut.
Sebagai seorang Muslimah, babi adalah sesuatu yang haram baginya. Bukan soal selera, bukan soal kemampuan memasak. Ini soal keyakinan yang ia jaga jauh sebelum ia melangkah masuk ke dapur kompetisi itu.
Di lansir dari laman mualaf bahagia, kisah Sogo telah di lake kebih 6.029 pemirsa itu membuat para juri tidak tinggal diam. Mereka langsung memberinya Celemek Hutam - tanda bahaya yang berarti nominasi eliminasi. Salah satu juri berkata keras: "Disini, kamu datang untuk memasak segalanya"
Perdebatan pun pecah di seluruh Spanyol dan dunia maya. Sebagian orang mendukung keputusan Soko, memuji keberaniannya mempertahankan prinsip di tengah tekanan kompetisi. Sebagian lain berpendapat bahwa peserta lomba memasak harus siap memasak apa pun yang diminta.
Di akhir episode, Soko berhasil selamat dari eliminasi. Tapi pertanyaan besar tetap menggantung: apakah sebuah kompetisi memasak harus mengakomodasi keyakinan agama pesertanya, atau aturan tetaplah aturan?
Kasus Soko bukan yang pertama. Di MasterChef Australia, dua peserta Muslim sebelumnya juga menghadapi situasi serupa dengan daging babi dan keduanya tersingkir dari kompetisi.
Di mana pun kamu berdiri dalam perdebatan ini, satu hal yang pasti: Soko memilih imannya. Dan itu bukan keputusan yang mudah di bawah sorotan kamera seluruh dunia.
Menurut kamu, apakah Soko membuat keputusan yang tepat? Atau aturan kompetisi memang harus diikuti sepenuhnya?
