arrow_upward

Ramlan Nurmatias: 1.700 Padusi Minang Semarakkan Satu Abad Jam Gadang

08 Juni 2026 : 8.6.26

 

Bukittinggi,merapinews.com –

 "Perempuan (padusi) Minang adalah penjaga marwah adat dan budaya yang telah diwariskan turun-temurun. Melalui parade Seratus Tahun Jam Gadang, kita ingin menunjukkan kepada Indonesia dan dunia bahwa identitas budaya Minangkabau tetap hidup, terawat, dan menjadi kebanggaan masyarakatnya."

Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menyatakan saat membuka Parade 1.700 Perempuan Berbusana Minang yang digelar dalam rangka peringatan 100 Tahun Jam Gadang dan International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4 Tahun 2026, Sabtu (6/6/2026).

Ribuan perempuan yang mengenakan beragam busana adat Minangkabau memadati kawasan Pasar Ateh hingga pelataran Jam Gadang. 

Kehadiran peserta dari berbagai daerah di dalam dan luar Sumatera Barat menjadikan kegiatan tersebut bukan hanya perhelatan budaya, tetapi juga momentum memperkenalkan kekayaan tradisi Minangkabau ke tingkat nasional dan internasional.

Menurut Ramlan, peringatan satu abad Jam Gadang harus dimaknai lebih dari sekadar seremoni. Momen bersejarah itu menjadi sarana menguatkan identitas daerah sekaligus mengingatkan generasi muda terhadap nilai-nilai adat, budaya, dan sejarah yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Minangkabau.

"Jam Gadang bukan hanya ikon wisata Bukittinggi. Ia adalah saksi perjalanan sejarah daerah dan bangsa. Karena itu, melalui kegiatan budaya seperti ini, kita ingin memastikan warisan leluhur tetap dikenal, dicintai, dan diwariskan kepada generasi berikutnya," ujarnya.

Ramlan, juga mengapresiasi tingginya partisipasi masyarakat yang ikut menyukseskan kegiatan tersebut. 

Menurutnya, antusiasme ribuan peserta membuktikan bahwa kecintaan terhadap budaya Minangkabau masih sangat kuat di tengah perkembangan zaman.

Sementara itu, Ketua Koordinator Parade Perempuan Berbusana Minang, Suherni Syam, menjelaskan jumlah peserta yang mencapai 1.700 orang melampaui target awal panitia sebanyak 1.500 peserta. 

Peserta datang dari berbagai daerah seperti Batam, Palembang, Pekanbaru, serta sejumlah wilayah lainnya.

Menurut Suherni, parade tersebut menjadi wadah untuk memperlihatkan keindahan sekaligus filosofi yang terkandung dalam busana adat Minangkabau.

"Baju Basiba dan berbagai pakaian adat salingka nagari bukan sekadar pakaian tradisional. Di dalamnya terkandung nilai kehormatan, kesantunan, dan peran perempuan Minang sebagai limpapeh rumah nan gadang. Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa budaya adalah identitas yang harus terus dijaga dan dilestarikan," katanya.

Parade 1.700 Padusi Berbusana Minang menjadi salah satu agenda paling menarik dalam rangkaian peringatan 100 Tahun Jam Gadang, sekaligus menegaskan posisi Bukittinggi sebagai salah satu pusat pelestarian budaya Minangkabau yang terus mendapat perhatian nasional maupun internasional.(asroel bb)