arrow_upward

Ketika TMMD ke - 129 Kodim 0306/50 Kota Menyatukan Harapan

08 Agustus 2026 : 8.8.26

 

Limapuluh Kota, merapinews.com —

 Hujan yang turun pada Sabtu siang (8/8/2026) tidak serta-merta menghentikan denyut pekerjaan di Jorong Buluh Kasok, Nagari Sarilamak, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota.

Di tengah cuaca yang berubah-ubah, aktivitas Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Tahun Anggaran 2026 Kodim 0306/50 Kota terus bergerak.

Satu sasaran menjadi perhatian utama: jalan sepanjang 2,7 kilometer yang kelak menjadi urat nadi baru bagi masyarakat setempat.

Hingga Sabtu 8 Agustus 2026, pembangunan badan jalan tersebut telah mencapai 90 persen.

Dansatgas TMMD/N ke - 129 Kodim 03036/50 Kota, Kol Inf. Nooriadi Nata, menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja keras dan sinergi antara TNI, Polri, dan masyarakat. 

“Kami terus berupaya memaksimalkan waktu dan tenaga yang ada agar seluruh sasaran fisik dapat selesai tepat waktu dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. TMMD ini adalah wujud kemanunggalan TNI dengan rakyat,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa semangat gotong royong di lapangan menjadi kunci utama percepatan pekerjaan, meski dihadapkan pada kondisi cuaca yang tidak menentu.

Angka itu bukan sekadar persentase. Di baliknya ada tenaga 110 prajurit TNI, lima personel Polri dan enam warga yang bekerja bersama mengejar penyelesaian pekerjaan.

Jalan dengan lebar tujuh meter itu diproyeksikan membuka akses yang lebih baik bagi masyarakat. Mobilitas menjadi lebih mudah, konektivitas kawasan semakin terbuka, dan harapan terhadap tumbuhnya aktivitas ekonomi warga pun ikut terbentang bersama panjang jalan yang sedang dibangun.

Namun pekerjaan belum selesai.

Pengerasan badan jalan menggunakan material sertu sepanjang 2.550 meter masih terus dikebut. Pekerjaan tersebut saat ini baru mencapai 15 persen.

Di bagian lain, sejumlah sasaran fisik telah lebih dahulu menuntaskan tugasnya.

Penurunan elevasi jalan sepanjang 400 meter telah mencapai 100 persen. Begitu pula pemasangan lima titik gorong-gorong dan pemasangan batu sepanjang 100 meter yang seluruhnya telah rampung.

Sementara itu, tujuh unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang dibangun untuk masyarakat telah mencapai 93 persen.

Tugu TMMD yang menjadi penanda kehadiran program kemanunggalan TNI dan rakyat juga mulai memperlihatkan bentuknya, dengan progres mencapai 70 persen.

Tetapi TMMD bukan hanya tentang jalan, gorong-gorong atau rumah.

Di Buluh Kasok, program itu juga membawa agenda yang menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat.

Program ketahanan pangan pada lahan seluas satu hektare telah selesai 100 persen. Pembagian makanan bagi penderita stunting, penanaman pohon, pembersihan lingkungan, pembagian sembako, pelayanan kesehatan gratis hingga bazar murah juga telah terealisasi.

Sementara program TNI Manunggal Air Bersih masih berjalan dengan progres 83 persen.

Semua itu memperlihatkan satu hal: pembangunan tidak selalu berbentuk beton, batu dan sertu.

Ada kesehatan. Ada pangan. Ada air bersih. Ada lingkungan. Ada kepedulian sosial.

Di bidang nonfisik, Satgas TMMD juga telah menyelesaikan berbagai penyuluhan yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Mulai dari kesehatan lingkungan, wawasan kebangsaan dan bela negara, kependudukan, keamanan dan ketertiban masyarakat, penanggulangan bencana, ketahanan pangan, keagamaan, komunikasi dan informasi, hingga pencegahan penyalahgunaan narkoba.

Berbagai unsur dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Pemerintah daerah, kepolisian, Kodim, BKKBN, Damkar, BPBD, Kementerian Agama, BNN, Satpol PP, Dinas Perikanan, Dinas Pertanian, Ajenrem 032/Wbr, Kumrem 032/Wbr hingga Politeknik Pertanian ikut mengambil bagian.

Bahkan kegiatan sosial seperti donor darah telah terlaksana sepenuhnya.

Dengan demikian, TMMD ke-129 di Buluh Kasok tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur. Ia hadir dalam bentuk yang lebih luas: membangun akses sekaligus membangun kesadaran, membangun rumah sekaligus membangun kepedulian, serta membangun fasilitas sekaligus memperkuat hubungan antara TNI dan masyarakat.

Kini, ketika sebagian besar sasaran tambahan dan nonfisik telah selesai, perhatian Satgas semakin tertuju pada sasaran fisik yang masih berjalan.

Jalan 2,7 kilometer itu menjadi pekerjaan rumah terbesar yang harus dituntaskan.

Hujan boleh datang. Medan boleh berubah. Waktu terus berjalan.

Namun pekerjaan tetap bergerak.

Progres 90 persen menjadi penanda bahwa garis akhir semakin dekat.

Bagi Satgas TMMD, pekerjaan tidak berhenti ketika angka mencapai 100 persen. Jalan yang selesai dibangun harus benar-benar dapat digunakan. Rumah yang dibangun harus memberikan kehidupan yang lebih layak. Air bersih harus mengalir dan dirasakan manfaatnya.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan TMMD bukan semata-mata seberapa cepat pekerjaan selesai.

Tetapi seberapa lama manfaat pembangunan itu tinggal dalam kehidupan masyarakat.

Di Buluh Kasok, jalan sepanjang 2,7 kilometer itu kini sedang menuju ujungnya.

Dan ketika kelak kendaraan warga melintas di atasnya, mungkin yang akan dikenang bukan lagi berapa persen progres yang pernah dicatat.

Melainkan bagaimana, di tengah hujan dan keterbatasan, TNI bersama rakyat pernah bekerja bergandengan tangan membuka sebuah jalan menuju masa depan.(asroel bb)