SARILAMAK,Merapinews.com –
Tangis kecil Madinah kerap memecah kesunyian rumah kontrakan sederhana yang ditempatinya bersama kedua orang tuanya di Jorong Ketinggian, Nagari Sarilamak, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota. Di usia yang baru menginjak tujuh bulan, bayi perempuan itu belum sempat menikmati masa tumbuh kembang yang normal seperti bayi lainnya.
Sejak lahir, Madinah sudah harus berjuang mempertahankan hidupnya. Putri dari seorang kuli bangunan itu didiagnosis menderita jantung bocor bawaan, hipotiroid, dan kini menghadapi dugaan Leukimia Akut atau kanker darah yang terus mengancam keselamatannya.
Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, perjuangan Madinah terasa semakin berat. Hampir setiap kali tubuh mungilnya melemah, kedua orang tuanya harus bergegas membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan dan transfusi darah.
“Kadang kami tidak tahu lagi harus mencari uang ke mana. Yang penting anak kami bisa dibawa berobat,” tutur sang ibu dengan mata berkaca-kaca.
Perjuangan panjang itu dimulai sejak Madinah lahir pada 7 November 2025. Pada Februari 2026, ia mulai menjalani pengobatan intensif di RSUP Dr. M. Djamil Padang.
Cobaan berat datang pada 27 Maret 2026 ketika Madinah mengalami gagal napas dan harus dirawat di ruang ICU/PICU RS Unand. Dokter menemukan kadar hemoglobinnya turun hingga angka 1,2, kondisi yang sangat membahayakan nyawa. Saat itu, Madinah harus menerima enam kantong transfusi darah untuk mempertahankan hidupnya.
Belum selesai dari satu ujian, hasil pemeriksaan sumsum tulang belakang pada April 2026 menunjukkan adanya sel kanker sebesar tiga persen. Sebulan kemudian, jumlahnya meningkat menjadi 17 persen. Dokter kemudian mendiagnosis Madinah mengalami bisitopenia yang mengarah pada Leukimia Akut (SUSP ALL/AML).
Hingga kini, Madinah masih harus bolak-balik menjalani perawatan di RSUD Adnan WD Payakumbuh dan RSUP Dr. M. Djamil Padang. Setiap kali kadar hemoglobin dan trombositnya turun drastis, risiko pendarahan otak mengintai karena kondisi jantungnya yang tidak mampu memompa darah secara optimal.
Di balik perjuangan medis itu, keluarga Madinah juga tengah berjuang melawan keterbatasan ekonomi. Sang ayah yang bekerja sebagai kuli bangunan sering kehilangan penghasilan karena harus mendampingi anaknya menjalani pengobatan berhari-hari di Padang.
Tabungan keluarga telah habis. Barang-barang yang dapat dijual pun sudah tidak tersisa. Bahkan untuk ongkos pulang dari rumah sakit, mereka kerap harus meminjam uang dari tetangga.
“Pernah kami pulang dari Padang dan ongkos travel dibayar setelah sampai di rumah karena tidak punya uang saat berangkat. Kami pinjam dulu kepada tetangga,” ungkap sang ibu.
Ironisnya, keluarga yang tergolong miskin ekstrem tersebut mengaku belum pernah menerima bantuan sosial seperti PKH maupun BPNT. Berbagai upaya mencari bantuan juga belum membuahkan hasil yang diharapkan.
“Saya sudah mendatangi Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan. Katanya tidak ada anggaran. Ke BAZNAS, berkas kami dipending sampai tahun depan,” katanya.
Di tengah berbagai keterbatasan itu, harapan keluarga kini bertumpu pada dukungan para dermawan. Berdasarkan penjelasan dokter spesialis hematologi, Madinah membutuhkan transfusi darah rutin dalam jangka panjang atau transplantasi sumsum tulang belakang yang diperkirakan menelan biaya hingga Rp2 miliar.
Jumlah yang nyaris mustahil dijangkau oleh keluarga sederhana tersebut.
Kini, setiap hari sang ibu hanya bisa memeluk erat putrinya yang sering mengalami sesak napas, batuk, rewel, dan mendadak pucat. Di balik tatapan mata kecil Madinah, tersimpan perjuangan besar untuk bertahan hidup.
Keluarga berharap masih ada tangan-tangan dermawan yang tergerak untuk membantu agar Madinah dapat terus menjalani pengobatan dan memiliki kesempatan untuk tumbuh sehat seperti anak-anak lainnya.
Bagi masyarakat yang ingin membantu pengobatan Madinah, bantuan dapat disalurkan melalui:
Bank BCA No. Rekening: 6145336639 A.n. Nila Sri Rahayu
Konfirmasi Bantuan: 0821-6971-1142 (Arul – Relawan Kemanusiaan Luak 50)
Setiap doa, perhatian, dan bantuan yang diberikan menjadi secercah harapan bagi perjuangan hidup Madinah, bayi kecil yang hingga hari ini masih terus berjuang melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya.(rel/arul)
