Bukittinggi,merapinews.com —
Jam Gadang bukan sekadar penanda waktu bagi masyarakat Bukittinggi. Menara ikonik yang berdiri megah sejak 1926 itu telah menjadi saksi perjalanan sejarah, perubahan zaman, hingga tumbuhnya hubungan antarmasyarakat lintas negara.
Kini, tepat satu abad usianya, Jam Gadang kembali menjadi titik temu sebuah peristiwa penting: memperkuat jalinan persahabatan Indonesia dan Belanda melalui diplomasi budaya.
Sabtu (20/6/2026), Pemerintah Kota Bukittinggi bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kementerian Kebudayaan RI menggelar Seminar Internasional bertajuk “Bridging Friendship: Strengthening Indonesia-Netherlands Diplomatic Ties via Bukittinggi-Amsterdam” di Balai Sidang Bung Hatta.
Kegiatan ini, kata Walikota Bukittinggi melalui Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kota Bukittinggi Albertiusman bukan sekadar forum akademik.
Di balik diskusi dan pertukaran gagasan yang akan berlangsung, tersimpan pesan bahwa sejarah masa lalu dapat menjadi jembatan untuk membangun masa depan yang lebih baik. Bukittinggi, dengan warisan sejarah dan budayanya, dipandang memiliki posisi strategis untuk memperkuat hubungan kedua negara melalui pendekatan kebudayaan.
Menurut Albertiusman, peringatan 100 Tahun Jam Gadang merupakan momentum yang sangat tepat untuk mengangkat nilai-nilai sejarah dan persahabatan antarbangsa.
Jam Gadang bukan hanya ikon Kota Bukittinggi, tetapi juga simbol perjalanan sejarah yang panjang. Melalui seminar internasional ini, kita ingin menunjukkan bahwa warisan budaya mampu menjadi media diplomasi yang efektif dalam mempererat hubungan Indonesia dan Belanda.
" Sejarah yang pernah menghubungkan kedua bangsa harus menjadi modal untuk membangun kerja sama yang lebih baik di masa depan," ujar Albertiusman.
Menurutnya, Bukittinggi memiliki banyak jejak sejarah yang dapat menjadi bahan pembelajaran sekaligus ruang dialog internasional. Karena itu, peringatan satu abad Jam Gadang tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial, tetapi juga agenda ilmiah dan kebudayaan yang memberi manfaat bagi masyarakat luas.
"Kami berharap seminar ini dapat memperluas wawasan generasi muda tentang pentingnya sejarah, kebudayaan, dan diplomasi. Dari Bukittinggi, kita ingin mengirimkan pesan persahabatan kepada dunia bahwa budaya mampu menyatukan berbagai bangsa dalam semangat saling menghormati dan bekerja sama," katanya menambahkan.
Melalui seminar ini, para akademisi, diplomat, peneliti, budayawan, dan pemangku kepentingan dari berbagai latar belakang akan berbagi pandangan mengenai hubungan Indonesia-Belanda, diplomasi budaya, serta peluang kerja sama yang dapat dikembangkan pada masa mendatang.
Di usia yang ke-100 tahun, Jam Gadang tidak hanya berdiri sebagai monumen bersejarah. Ia menjadi saksi bahwa waktu dapat mengubah hubungan masa lalu menjadi persahabatan, dan Bukittinggi kembali mengambil peran sebagai ruang pertemuan gagasan, budaya, serta harapan bagi masa depan yang lebih baik.(asroel bb).
