Bukittinggi, merapinews.com –
Tidak semua pembangunan diawali dengan anggaran. Ada pembangunan yang justru lahir dari keikhlasan, dari sebidang tanah yang dilepaskan tanpa pamrih demi kepentingan masyarakat luas. Itulah yang kini terjadi di kawasan Arena Pacuan Kuda Bukik Ambacang, Bukittinggi.
Selama bertahun-tahun, kawasan yang menjadi pusat berbagai event olahraga berkuda dan destinasi wisata itu belum memiliki rumah ibadah. Setiap kali perlombaan berlangsung dan ribuan pengunjung memadati arena, suara azan berkumandang, namun banyak di antara mereka harus mencari tempat lain untuk menunaikan salat. Sebagian rela meninggalkan arena, sementara yang lain menunda ibadah karena keterbatasan fasilitas.
Kini, penantian itu menemukan jawabannya.
Keikhlasan keluarga Inyiak Datuak Sati dari Suku Sikumbang bersama Syukri Naldi Lubuak Rangkayo yang menghibahkan lahan seluas sekitar 600 meter persegi kepada Pemerintah Kota Bukittinggi menjadi titik awal terwujudnya pembangunan sebuah mushalla di kawasan Bukik Ambacang.
Hibah tersebut bukan sekadar penyerahan sebidang tanah. Ia mencerminkan kuatnya budaya gotong royong dan semangat wakaf sosial yang telah lama hidup dalam masyarakat Minangkabau, ketika tanah pusaka dan hak milik pribadi dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat melalui musyawarah dan keikhlasan.
Wali Kota Bukittinggi menyampaikan rasa syukur atas terwujudnya cita-cita yang telah lama diharapkan masyarakat.
"Alhamdulillah, hari ini menjadi kabar yang membahagiakan. Terima kasih kepada keluarga Inyiak Datuak Sati, keluarga Suku Sikumbang, serta Bapak Syukri Naldi Lubuak Rangkayo yang dengan penuh keikhlasan menghibahkan sebagian tanahnya kepada Pemerintah Kota Bukittinggi untuk pembangunan sebuah mushalla di kawasan Bukik Ambacang," ujar Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, Rabu 15 Juki 2026.
Menurutnya, keberadaan mushalla nantinya bukan hanya melengkapi fasilitas kawasan pacuan kuda, tetapi juga menjadi simbol bahwa pembangunan tidak semata menghadirkan infrastruktur fisik, melainkan juga memperkuat nilai-nilai spiritual di ruang publik.
Mushalla itu kelak akan menjadi tempat masyarakat, atlet, panitia, pedagang, maupun wisatawan menunaikan ibadah dengan nyaman tanpa harus meninggalkan kawasan. Di saat yang sama, bangunan tersebut akan menjadi penanda bahwa perkembangan destinasi wisata Bukittinggi tetap berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai religius yang menjadi identitas daerah.
"InsyaAllah, mushalla ini akan menjadi tempat ibadah bagi masyarakat dan para wisatawan yang berkunjung. Semoga segala niat baik dan keikhlasan para penghibah menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Aamiin," kata Wali Kota.
Bagi masyarakat Bukittinggi, hibah tanah ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada ukuran 600 meter persegi. Di atas lahan itulah kelak akan berdiri sebuah rumah ibadah yang menjadi saksi bahwa keikhlasan dapat melahirkan manfaat yang terus mengalir, tidak hanya untuk hari ini, tetapi juga bagi generasi yang akan datang.(asroel bb)
